13.735 KM.
Haechan berlari disepanjang terminal bandara menuju tempat kedatangan penerbangan dari Canada, hatinya bergemuruh gembira setelah sekian lama tak bertemu dengan Mark, his childhood friend and also his crush.
3 taun Mark meninggalkan ibukota hingga sekarang ia kembali lagi menerima kehangatan dari pelukan Haechan.
“Haechan jangan lari-lari” teriak seorang lelaki dari belakang Haechan yang kini mengejar Haechan, Johnny si kakak sulung Haechan yang kini sedang menemani adiknya menemui kasihnya.
Haechan menunggu tepat di pintu kedatangan, penumpang pesawat mulai keluar dari pintu, dan tak lama menampakan seseorang yang Haechan tunggu, Mark. Dia pulang, dia kembali untuk menghadap Haechan untuk menyatakan perasaannya secara langsung.
Lelaki berkemeja orange itu menarik kopernya berjalan, ia masih belum melihat keberadaan Haechan, masih mencari dimana temannya itu.
“MARK DISINI!!” Teriak Haechan sambil melambaikan tangannya.
Mark menotis keberadaannya, Haechan berlari menuju Mark dan menghamburkan pelukannya.
“MARK” Haechan menubrukan badannya pada Mark dan memeluk Mark erat.
“Calm down hyuck” Mark membalas pelukannya.
“I miss you” Haechan menenggelamkan kepalanya diceruk leher Mark.
“I miss you too hyuck”
Haechan melepaskan pelukannya, ia memandangi wajah Mark yang telah lama ia rindukan.
Dari kejauhan, Johnny memperhatikan adiknya dengan senyuman tipis tercetak di bibirnya, ia mengeluarkan ponselnya lalu mengambil gambar dua insan muda itu.
Setelah mengambil beberapa foto mereka ia menghampiri keduanya.
“Hey whatssup bro?”
_“YO! bang jo long time no see” _ sapa Mark pada johnny layaknya teman pada umumnya mereka melakukan high five sembari memeluk melepas rindu.
Setelah melepas rindu satu sama lain johnny kini mengajak keduanya untuk makan siang di resto cepat saji terdekat.
“Gimana lo di Canada Mark?” Tanya Johnny
“It’s pretty good, but i just feel lonely”
“Poor you” Haechan menyela perkataan Mark.
“Thank i guess??” Setelah berkata itu Mark melahap burgernya.
Beberapa jam mereka bertiga lewati, Johnny kali ini permisi untuk ke toilet.
Kini hanya ada Haechan dan Mark.
“Hyuck karena aku udah pulang, will you be my boyfriend?” Mark menarik tangan Haechan dan menggenggamnya.
“Hmmm gimana ya, sometimes i feel i hate you very very much but at the same time i always missing you and thinking how this stupid boy being flirty to me, so i’ll say yes”
Mark mengecup punggung tangan Haechan.
Tempat ini, di bandara keduanya kembali membuat cerita baru, dengan hubungan yang baru, tanpa ada rasa sedih ataupun takut akan kehilangan untuk kedua kalinya, Haechan percaya jika Mark akan berada disampingnya selalu.
Haechan percaya, kemana pun seseorang pergi dan sejauh apapun seseorang itu pergi ia akan kembali ke rumahnya.
Dan Haechan, rumah berpulangnya Mark sejauh apapun Mark pergi meninggalkan dirinya.