Glimpse

18, tanggal dimana keduanya mengikat hubungan sebagai sepasang kekasih, Mark meminta dan merayu Donghyuck untuk menjadi kekasihnya.

Tiga bulan berjalan keduanya menjalin hubungan, tapi tak seindah seperti yang orang lihat. Fakta yang nyatanya disembunyikan ialah, Donghyuck pemeran ketiga di hubungannya. Mark yang terkenal dengan sifat yang baik, dan paling paham dengan perasaan orang lain, nyata nya tidak begitu, nyatanya tak bisa dibuktikan oleh Donghyuck, nyatanya kebaikan dia hanyalah penutup segala sakit yang Mark rasa.

Luka yang Donghyuck dapat tak disertakan dengan obat penawar sakit, tidak juga Mark sembuhkan. Nyatanya Mark tak sebaik yang dulu Donghyuck kenal.


Pukul delapan malam, di rumah Mark. Keduanya merayakan hari jadi yang ke tiga bulan atas berlangsungnya hubungan mereka. Jauh dari kata romantis dan hangat. Keduanya lebih banyak diam dan menanyakan kegiatan sehari-hari dibanding dengan membagi segala kasih dan sayang.

Bosan yang dirasa, canggung yang menerpa, maka dari itu Mark memutuskan untuk mengajak Donghyuck menonton film kesukaan Mark dan “Dia” masa lalunya.

“Kamu suka film ini dek?”

“Suka, aku sering rewatch film ini, kakak suka?”

“Haha, iya aku dulu suka nonton sama dia” tak perlu lagi Donghyuck menerka, tebakannya sudah pasti valid, ukiran senyumnya seketika hilang bak goresan pensil yang dihapus.

Detik berlalu menjadi menit, menit berganti menjadi jam hingga tak disangka Mark sudah tertidur bersandar di bahu Donghyuck.

Donghyuck memandangi wajah Mark, tampan rupanya. “Ren kamu cantik” ucap Mark tak sadar.

“Ren kita bisa gak ya menua bareng?”

“Ren jangan pergi”

“I miss you...” kata terakhir yang Mark sampaikan begitu lirih, bukan hanya Mark yang sakit bukan hanya Mark yang menderita, tapi ada Donghyuck yang lebih menderita, yang hidupnya lebih kelabu dibanding Mark.

Mark, tidak membawa apa yang ia dambakan, Mark tidak mengembalikan apa yang telah ia beri, Mark hanya membawa langit abu-abu tanpa membawa sang penerang.

Mark sang pembawa gelap nya hari dan menumpang berteduh pada Donghyuck, tapi ia tak sadar ia meninggalkan jejak buruk pada tempat singgah itu.

Seharusnya Donghyuck sadar ia hanya tempat sandaran sementara, harusnya ia pergi dan lari dari hubungan ini, bukan kah seharusnya mereka menanam benih cinta baru dan memendam masa lalu? Tapi kenapa? Kenapa Mark malah tetap merawat dan menjaga memori lamanya? Apakah Donghyuck tidak bisa menggantikan posisi si “Dia”?

“Kak kapan aku bisa jadi yang pertama di hati kamu, kapan aku jadi prioritas kamu? Aku cape jadi seseorang yang hanya dijadiin formalitas karena kita punya status” Donghyuck berkata, tak peduli didengar atau tidak, tapi yang penting ego nya bisa ia buang saat ini juga.

Tak lagi berpikir Donghyuck segera membenahi diri dan memutuskan pulang. Tak peduli orang melihatnya berjalan ditengah hujan, tak peduli pukul berapa sekarang, tak peduli bajunya semakin basah. Biarkan air matanya menyatu dengan sang hujan.

“Gak bisa ya aku jadi pengganti dia? Kapan kamu sadar kalau aku ada di sisi kamu Mark? Selama ini ternyata aku cuma figuran?”

Di gelap malam menuju pagi, Donghyuck terus berjalan hingga tiba disebuah rumah kecil dan nyaman miliknya. Tubuh mengigilnya disambut oleh pelukan sang abang.

Hendery, tak berusaha melepas pelukan sang adik karena ia tahu adiknya sedang tak baik-baik saja.

“Ya ampun adek? Kenapa jam segini hujan-hujanan abang kira kamu mau nginep di rumah Mark”

Badannya semakin bergetar, isak nya semakin bergema. “Abang maaf, seharusnya aku dengerin kata kamu, seharus nya aku gak sepercaya diri itu, harusnya aku sadar untuk gak menjalin hubungan sama orang yang belum selesai dengan masa lalunya”

Hendery memberi kenyamanan yang Donghyuck cari, membiarkan sang adik meluapkan segala emosi yang tiga bulan lamanya ia pendam. Ia tak banyak menuntun ataupun menuntut, Karena sejatinya manusia itu ditakdirkan untuk memilih, dan kali ini Donghyuck di hadapkan dengan dua pilihan; tetap bersama Mark dan menjadi pemeran pengganti, atau memilih pergi meninggalkan Mark dan membuat ceritanya sendiri sebagai pemeran utama.