Friend didn’t kiss each other.

“Lo pernah ciuman gak?” Pertanyaan yang tiba-tiba Haechan tanyakan kepada sahabat kecilnya itu, Mark.

“Belom pernah” jawabnya.

Malam minggu, dimana malam untuk menghabiskan waktu untuk bersantai atau jalan-jalan, tapi Mark dan Haechan lebih memilih bersantai di apartemen milik Haechan.

Mereka sedang asik menonton film spiderman, yang sudah berkali-kali mereka tonton, hingga Haechan bosan tapi tidak dengan Mark, ya mungkin bisa dibilang Mark merupakan fans garis keras serial Marvel itu.

Kembali ke percakapan antara Mark dan Haechan dimana Haechan menayakan sesuatu yang tidak penting, perihal ciuman.

“Cupu amat lo belom ciuman” remeh Haechan.

“Dih si anjing emang lo udah pernah?” Tanya Mark lagi yang matanya masih tergokus pada gambar di televisi.

“Ya engga lah, tapi setidaknya gue gak pernah ciuman ada alesannya karena jomblo, emangnya lo gonta-ganti pacar tapi gak pernah ciuman” intonasinya seperti meremehkan Mark untuk kesekian kalinya.

Tangannya bergerak mengambil minuman kemasan di meja depan.

“Makanya jangan jomblo, emang kenapa sih lo nanya ciuman-ciuman segala, mau ciuman lo?”

“Engga sih, tadi gue abis scroll ig eh ada yang ciuman terus gue penasaran rasanya gimana” jawabnya santai matanya selama berbicara dengan Mark tak menatap lawan bicaranya.

“Mau nyoba?”

“Ogah sama lo”

Haechan meninggalkan Mark diruang tv sendirian ia berjalan ke dapur untuk memasak mie.

5 menit—10 menit berlalu hingga film yang Mark tonton selesai Haechan tak kunjung kembali. Mark segera menyusul Haechan ke dapur.

Dilihatnya Haechan tengah menyantap mie buatannya sendiri.

“Chan” panggil Mark

“Kenapa? Mau mie? Gak ada, udah abis”

“Engga”

Haechan berjalan ke wastafel menaruh mangkuk kotornya. Tangan dan pandangannya tak lepas dari hp yang ia genggam. Hingga ia tak sadar jika tepat dibelakangnya terdapat Mark yang menghalangi jalan.

Tubuhnya berbalik hingga hampir menubruk badan besar Mark.

“Awas kek anjing ngehalangin aja”

Mark tak mendengar omelan Haechan ia masih menatap emmm- bibir Haechan yang agak kotor.

“Celana lo pendek banget? kyk gak make celana malahan”

“Ya kenapa? Sange lo?” Tanya Haechan tak tahu malu.

“Awas Mark” tangannya mendorong tubuh jangkung Mark tapi apa daya kekuatannya kalah jauh dengan yang dimiliki Mark.

“Bibir lo kotor sini gue bersihin”

“Gue bisa bersihin sendiri” baru saja tangan Haechan mau mengusap bibirnya sendiri tapi malah ditahan oleh Mark.

Kepalanya semakin mendekat ke bibir Haechan yang kelihatan bengkak karena kepedasan.

Pinggang Haechan sudah menempel pada meja dapur, begitu juga dengan tubuh Mark yang menempel di tubuh Haechan.

Tatapan Mark tak lepas dari bibir seksi Haechan, sedangkan Haechan terus menatap mata sahabatnya itu.

Cup...

bibir Mark dan Haechan menempel lidahnya menjilat sekeliling bibir Haechan yang terlihat kotor.

Mark mengangkat Haechan dan mendudukan di meja dapur.

Kali ini bibirnya terus mencium dan menyesap bibir pink Haechan, yang dicium melepaskan ciumannya, dan memukul bahu Mark keras.

“Mark anjing! Ngapain nyium gue bego?! Lo punya pacar gue ga mau jadi selingkuhan lo bangsat!”

“Ya emang kenapa? Gue sama dia udah putus kemarin”

Tak ada jawaban dari mulut Haechan, ia masih terdiam otaknya masih mencerna kejadian beberapa detik yang lalu.

Mark menggapai tangan Haechan dan menautkan dilehernya, sedangkan tangannya melingkar dipinggang ramping milik Haechan.

Keduanya menatap satu sama lain, kali ini wajah Haechan yang mendekat pada bibir Mark.

Untuk kesekian kalinya bibir mereka menempel, kali ini bukan ciuman biasa, tapi diselingi dengan sesapan. Seisi ruangan dipenuhi dengan suara ciuman dan lumatan keduanya.

Tangan Mark mendorong tengkuk Haechan untuk memperdalam ciuman mereka. Lidahnya bergulat bertukar saliva. Hingga Haechan meminta menghentikan kegiatan ciuman itu lantaran nafasnya semakin menipis.

“Cantik banget lo anjing, pacaran deh yuk” Kata Mark sedikit frustasi melihat penampilan Haechan yang sedikit berantakan, bibirnya semakin bengkak, rambutnya tak karuan dan pipinya memerah bagai memakai blush on.

“Enak, mau lagi” jawab Haechan santai sambil mengusap bibir mark– maksud perkataannya itu Haechan meminta lagi, meminta Mark untuk menciumnya untuk kali ketiga.

“Jadi pacar gue ya? Nanti gue cium setiap hari” tangan Mark mengusap pipi Haechan.

“Dih kalo gue ga suka gimana?” Elak Haechan padahal kenyataannya momen inilah yang ia tunggu, momen dimana Mark mengajak ia pacaran, menyatakan perasaannya langsung ke dirinya.

“Gue yakin seribu persen kalo lo suka gue, kalo ga suka ya tinggal gue bikin lo suka, lagian ya kalo gak suka gue kenapa minta cium lagi?”

“Pede gila lo” kata Haechan sambil menyubit pinggang Mark.

“Sakit anjing” bukannya menjauh Mark malah semakin memepetkan tubuhnya pada Haechan.

“Kenapa deket-deket anjir? Jauh-jauh sana” Haechan mendorong badan Mark agar menjauh dari dirinya.

“Gue suka lo, kenapa gak peka sih?” Bisik Mark.

“Kalo suka gue kenapa kemaren-kemaren malah pacaran sama temen gue bangsat” lagi dan lagi Haechan memukul dada Mark.

“Alibi doang itu sebenernya gue gak pacaran, cuma minta tolong ke dia gue takut kena friendzone sama lo soalnya” Mark menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan kini tubuhnya mundur perlahan.

“MARK LEE GOBLOK!” Haechan berteriak dan menarik kerah kaos yang Mark gunakan.

Bibirnya menubruk bibir Mark ia mengigit bibir itu hingga Mark memekik kesakitan

“Sakit anjir” Mark mengelus bibirnya

“Ya lagian goblok banget, males gue punya pacar goblok kyk lo” Haechan membuang muka agar pandangannya tak bertemu dengan mata Mark.

“Pacar??? Pa?? Car?? Lo nerima gue jadi pacar lo??”

“Engga–” tolak Haechan, tangan Mark memegang dagu Haechan agar Haechan menatapnya, tapi Haechan masih saja membuang mukanya.

“Serius dong elah” tanya Mark ia menginterupsi Haechan.

“Serius engga pacaran ya anjing!” Haechan masih tak menatap Mark malu yang ia rasa sekarang.

“Lee Haechan” Panggil Mark.

“IYA MARK IYA PACARAN JANGAN MANGGIL NAMA LENGKAP DONG!” Haechan sangat takut jika Mark memanggil dengan nama lengkap, terakhir Mark memanggilnya dengan nama lengkap Mark begitu marah besar.

“Bercanda sayang” cup... kini kecupan mendarat di pipi Haechan.

“Gue putusin juga nih” jawab Haechan.

“Belom juga 24 jam anjir, lapor rt aja harus 3x24 jam ini kita pacaran belom ada sejam”

“Yaudah diem makanya” Haechan mencoba turun dari posisinya sekarang, tapi Mark masih menahannya.

“Jangan pergi dulu, ciuman posisi gini enak chan”

“Ciuman mulu otak lo, udah sana” kali ini Haechan mendorong tubuh Mark dengan kakinya hingga Mark menjauh darinya.

Haechan turun dari meja dan berjalan menuju sofa ruang televisi.

“Kyknya gue mau pindah” kata Mark Haechan yang mendengar itu spontan membalikan tubuhnya menghadp Mark.

“Pindah kemana anjir??” Tanya Haechan yang mendekat ke Mark kembali.

“pindah ke apart lo biar bisa ngeliat sama cium lo tiap hari”

“Dih engga-engga orang kamar disini cuma satu ya” tolak Haechan

“Ya kan bisa tidur sekasur”

“Gak ya nanti lo macem-macem, ogah banget”

“Negatif banget pikiran lo anjir” kata Mark yang tangannya kini menoyor dahi Haechan.

—mau banget gue macem-macemin ya?” Kali ini Mark melontarkan pernyataan bodoh.

“Ya engga lah dikata gue lelaki murahan kah”

“Engga gitu sayang” ucap Mark yang menarik pinggang Haechan.

“Geli anjir”

Haechan meninggalkan Mark dan disusul dengannya. Hari pun semakin malam dan hujan semakin besar Mark memutuskan untuk bermalam di apartemen Haechan.

Mission complete— Pikir Mark misi confess dan mengajak pacaran sahabat kecilnya ini sudah berhasil, sekarang ia tak perlu takut lagi jika Haechan dekat dengan temannya yang lain dan tak perlu cemburu dalam diam, karena pada akhirnya Mark lah yang memiliki Haechan seutuhnya.

— end —

@ keripikpotato