Hema masih berada dikamar milik genta. Ia masih melamun dan membiarkan pikirannya melayang tinggi. Namun lamunannya terhenti karena Jenan yang masuk ke kamar abangnya.
“Ma udah baikan?” Tanya Jenan basa-basi
“Udah jen”
“Syukur kalo gitu, btw ma sorry ya gue gak bisa anter lo balik, soalnya ada keperluan. Tapi nanti bang Genta anter lo kok” ujar Jenan panjang lebar.
“Iya gpp makasih”
Percakapan keduanya pun ditutup dengan Jenan yang meninggalkan Hema seorang diri.
Tak banyak yang Hema lakukan ia hanya duduk menghadap jendela besar dikamar kilik Genta yang menunjukan pemandangan pohon hijau rimbun. Tapi ... Hema merasa bosan dan memutuskan untuk keluar dari kamar, dan menuju ke lantai bawah.
Terlihat ada seorang lelaki yang sibuk bergulat dengan laptopnya, tak terlalu fokus tapi pandangannya hanya tertuju pada layar didepannya.
“Kak” Hema mencoba memberanikan diri memanggil Genta.
“Eh Hema, kenapa? Ada yang perlu gue bantu?”
“Engga kak, gue cuma bosen dikamar” jawab Hema sejujurnya.
“Btw boleh anterin gue pulang?”
“Boleh, bentar gue beresin laptop dulu” Genta pun bergegas membereskan laptopnya dan langsung bangkit dari duduknya.
Kaki keduanya berjalan ke arah parkiran, Genta langsung masuk ke mobil dan disusul oleh Hema.
“Mamah lo gak ada?” Tanya Hema yang berniat berpamitan.
“Gak ada, pergi sama Jenan” Genta membalas singkat dan membuka pintu mobil lalu masuk ke mobilnya.
Hema pun menyusul Genta masuk.
Mobilnya kini sudah keluar dari pekarangan rumah Genta, dan mengarah ke jalan Siliwangi.
Jalanan ini sejuk terlihat beberapa pejalan kaki yang sedang berjalan ditrotiar atau pun sekedar duduk di bangku.
Tak ada percakapan apapun di mobil, tapi Genta berusaha menyairkan suasana.
“Ekhem” dehem Genta, Hema yang mendengar pun langsung melirik yang disebelahnya.
“Lo temen Jenan ya? Kenal dia udah berapa lama?” Genta menanyakan banyak hal.
“Mau jalan 2 taun, lo abang Jenan? Gue baru liat lo Jenan pun gak pernah cerita”
“Iya gue abangnya, gue jarang sih pulang ke Bandung soalnya bantuin ngurus perusahaan bokap di Jakarta, tapi gue jenuh di Jakarta jadinya minta balik kesini”
“Ohhh” Hema menutup percakapannya.
“Lo semalem kenapa ada di tengah jalan layang?” Genta cukup takut untuk menanyakan hal ini tapi rasa penasarannya begitu tinggi.
Hema hanya diam tangannya bergerak gelisah, Genta melihat gerak-gerik Hema dan langsung peka kepadanya.
“Eh maaf kalo lo gak nyaman, gue gak maksud” maaf Genta.
Mobil masih melaju menelusuri jalan sukajadi. Jalanan begitu padat karena hari ini Minggu.
“Ke arah mana ini?” Genta menanyakan jalan.
“Belok kiri, nanti ada portal, rumah gue yang deket portal”
“Ah okay”
Mobil terpakir tepat didepan rumah Hema.
“Makasih udah nganterin maaf ngerepotin, bilangin ke mamah sama jenan makasih juga ya” tangannya sudah bergerak membuka pintu mobil.
“Eh tunggu” Genta menahan tangan yang lebih muda.
“Kenapa?”
“Boleh minta nomor lo?” Tanya Genta ragu.
“Oh boleh”
Setelah Hema menyebutkan nomornya ia pun bergegas keluar mobil dan langsung masuk ke rumahnya.
— ditulis pada pukul 13:28 @keripikpotato