Hema keluar rumahnya membukakan gerbang untuk sahabat kecilnya itu. Tak tahu malu memang tapi itu lah keduanya bersama karena memiliki tingkat keanehan yang beda tipis.
Tak disangka si lelaki berkulit putih itu membawa sebuah parsel buah untuk sahabat karibnya “wih tumben bawa makanan biasanya ngerampok”
“Ya ini juga bawa makanan gara-gara disuruh si mamah”
“Buru ah masuk tiris” ucap Hema.
Keduanya sudah bersantai di ruang televisi ditemani teh dan gorengan yang tadi dibawa oleh teh Resha. Mereka tidak terlalu banyak bicara lantaran sedang bermain game online.
Hema mematikan ponselnya karena sudah kalah, ia menyeruput tehnya dan menyandarkan punggungnya dikaki sofa.
Disusul dengan Radit yang mematikan ponselnya, kini Radit menatap Hema dengan tatapan bingung.
“Kunaon euy maneh?” Tanya Radit memecah kecanggungan
“Tadi teh Resha ke sini, terus ya gitu aing cerita ke dia terus came out”
Radit sontak terkaget karena keberanian Hema, ia tak menyangka jika sahabatnya itu seberani ini.
“Terus teh Resha gimana responnya?” Radit semakin penasaran.
“Ya gak gimana-gimana, gak marah juga tapi pengen aing kembali ke jalan yang lurus”
“Yaudah kalo gitu mah ikutin jalannya waktu ga usah maksain, kalo maneh maksain yang ada stress sendiri. Semangat brader” Radit menepuk pundak Hema pelan.
Tak lama dari situ Azhar datang, ia mengetuk pintu hingga Hema buka kan.
Tok...Tok...Tok....
“Eh itu si azhar kali, kalem aing bukain dulu” ujar Hema pada Radit.
Dilihatnya ia banyak membawa banyak makanan untuk lara temannya.
“Maneh ke sini naik apa jar?” Basa-basi Hema
“Buroq”
“Serius anjing” Hema memukul lengan Radit pelan
“Naik mobil a, tadi mau hujan soalnya. Nih ma bawain” Radit menyodorkan kantung makanan ke Hema keduanya pun bergegas kembali ke ruang telivisi.
Tok...Tok...Tok....
Suara ketukan pintu terdengar lagi
“Jenan kali tuh bukain dit” Azhar menyuruh Radit yang tengah asik mengintip belanjaan yang dibawanya.
“Ganggu aja maneh”
“Gak usah dit biar aing aja yang buka” Hema memutar lagi badannya ke arah pintu dibukanya pintu dan tampak lah seorang lelaki memakai kaos hitam dan jeans.
Lelaki itu menunduk memainkan ponselnya tak sadar jika sudah dibuka kan pintu oleh Hema.
“Genta?” Tanya Hema.
Genta langsung mendangakan kepalanya menatap orang dihadapannya.
“Hai” raut mukanya berubah menjadi senyum cerah.
“Kirain gak bakal kesini, eh tapi Jenan belom dateng” kata Hema.
Berselang beberapa detik ada seseorang membuka pintu pagar rumahnya, Hema mengintip dari badan Genta.
Jenan, ia baru saja tiba.
“Jen” sapa Hema.
“Yoit ma” Jenan menghampiri keduanya.
“Abang?” Muka jenan terlihat heran “ngapain disini” sambung Jenan.
“Gue? Di ajak Hema ke rumahnya, kebetulan aja gue gak ada janji sama temen gue jadinya ya mampir”
“Oalah” Singkat Jenan
Hema hanya mendengarkan penjelasan Genta itu, dan mempersilahkan keduanya masuk.
“Yaudah ayo masuk” Hema berjalan didepannya sedangkan kedua kakak beradik itu berjalan beriringan dibelakang Hema.
“Oy” sapa Jenan pada Adit dan Azhar
“Eh jen kamana wae atuh jang” sapa Radit sambil menepuk pundak Jenan
“Di rumah lah emang kemana lagi gue?” Ujar Jenan
Ketiganya bercanda tanpa menghiraukan seseorang yang berdiri di samping Hema, hingga pada akhirnya Azhar menyadari kehadiran Genta.
Azhar dan Genta bertatapan beberapa detik, hingga Jenan tersadar lalu memperkenalkan abangnya itu.
“Eh iya kenalin dulu ini abang gue Genta”
“Genta” ucap Genta sambil bersalaman dengan kedua teman Jenan.
“Oh bang Genta yang ketemu gue sama Hema di dimsum du kan?” Tanya Adit.
“Iya bener” jawab Genta singkat.
Kelimanya pun melontarkan candaan hingga larut malam dan tertidur lelap. Tetapi tidak dengan Hema yang masih terjaga.
Ponsel Hema dipenuhi oleh notifikasi bundanya menanyakan kabar ayahnya, Hema terlihat sangat gokus membalas chat hingga tak sadar jika Genta berdiri didepannya.
Ya, ia menginap disini karena sudah terlalu larut jika harus pulang.
“Ma?” Genta mencoba memanggil Hema.
“eh kenapa? Kok belum tidur?” Tanya Hema basa-basi.
“Oh iya abis dari toilet, lo sendiri kenapa gak tidur?” Genta balik bertanya.
“Tadi abis ngambil minum” jawab Hema.
“Mau gue temenin?”
“Gak usah lo tidur aja mending udah malem juga kan” Hema sedang tak ingin diganggu sebab itu ia menyuruh Genta kembali tidur.
“Oh yaudah gue tidur duluan” Genta pun meninggalkan Hema yang duduk di meja makan.