It’s not propose it is promise.

Donghyuck menduduki dirinya di bangku cafe semi outdoor itu, pemandangan lampu kota yang diwarnai langit oranye begitu indah dipandang mata.

Mark baru saja duduk disampingnya sambil membawa minuman cokelat hangat untuk mereka berdua.

Keduanya memandangi sang fajar yang mulai tenggelam di arah barat, hanya menyisakan sinar yang sedikit demi sedikit menggelap.

Lampu-lampu di cafe tersebut mulai menyala, Donghyuck memandang langit tak banyak bintang yang menghiasi langit hanya ada dua bintang dan bulan yang berada di antara kedua bintang itu.

Donghyuck mengambil segelas cokelat hangat miliknya dan meminumnya.

Ia menaruh kembali gelasnya di meja. Beda hal nya dengan Mark ia belum menyentuh minumannya sama sekali.

Kini Mark berlutut didepan Donghyuck, dan memperlihatkan dua cincin couple.

“Hyuck, it’s not propose, but it is a promise. Janji ya kalau kamu bakal selalu ada di samping aku, dan aku janji akan selalu ada disamping kamu juga. Be my bestfriend, and my boyfriend as long as we lives

Mark memasangkan cincin di jari manis Donghyuck.

Ini bukan lamaran, bukan juga ajakan menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius, tapi ini janji antara keduanya untuk saling menjaga dan menyangi selama mereka masih bersama di dunia ini.

Mark bangkit dari posisi berlututnya, dan langsung ditarik kepelukan Donghyuck.

I fell first but you fell harder” Donghyuck berbicara hampir tak terdengar.

Pelukannya semakin mengerat lantaran udara puncak semakin dingin malam ini.