Teteh pulang.

Terlihat jam menunjukan pukul 11:05 WIB. Matahari pun semakin naik, Hema kini bersantai di ruang tamu sembari mengecek hp nya siapa tau ada pesan masuk dari tetehnya itu.

Hema lelaki kelahiran Juni ini bukan seseorang yang bisa dipanggil social butterfly, temannya tak banyak bahkan bisa dihitung jari. Ia tak terlalu suka nongkrong di cafe hits Bandung atau motoran keliling kota, rasanya itu bukan Hema banget.

Dia itu lelaki pemikir dan selalu berkecil hati, terlihat dari masa SD hingga SMA nya ia merasa iri dengan temannya, baik dalam bidang akademi mau pun bakat.

Ia selalu berpikir ia tak berguna, dan menyusahkan, ia juga merasa di dalam dirinya tak ada yang spesial, padahal dia itu beda dari pemuda seumurannya.

Hema itu ... pekerja keras, tak kritis tapi bisa puitis, pemikir dan pintar dalam menyembunyikan emosinya. Hema itu hebat, anak baik yang kuat.

Kembali dimana Hema menunggu sang teteh pulang. Rencana awal Hema hari ini ingin mengakui jika diantak menyukai perempuan, ia yakin jika bercerita pada Teh Resha adalah pilihan yang tepat.

Karena ... teh Resha satu-satunya orang yang paham dengan keadaannya, dan tak pernah memaksa Hema untuk bercerita, Hema merasa nyaman dengan itu.

Tok... tok... tok...

Pintu diketuk terlihat dari balik jendela terdapat seorang perempuan lebih tua 4 tahun darinya.

Hema bergegas membuka pintu, dan ya tepat dihadapannya adalah tetehnya.

Tangan Hema langsung mengarah ke kresek yang dibawa teh Resha.

“Orang mah kalo teteh nya pulang tuh salam atau peluk ini malah kabur bawa makanan” sindir teh Resha.

“Ya maaf lagi kelaperan” Hema sedikit berteriak karena setelah mengambil kresek bawaan teh Resha ia langsung pergi ke dapur mengambil piring.

Keduanya kini duduk diruang televisi. Hema duduk dilantai begitu pula dengan sang teteh.

Hema membuka belanjaan tetehnya dan mengeluarkan makanan tersebut dari plastik dan langsung memakan makanan yang dibawa sang teteh begitu lahap, yang membawa makanan malahan hanya tertawa kecil karena melihat tingkah adiknya itu.

Tatapan teh resha sendu, matanya seperti menahan agar air mata tak turun membasahi pipinya. Tangannya itu mengelus surai cokelat sang adik.

Hema langsung memberhentikan kegiatan makannya, dengan mulut yang penuh makanan ia menatap ke arah tetehnya.

“Engga kerasa dek kamu udah gede ya? Perasaan baru kemarin lulus SMP minta diajarin motor, pas udah bisa kamu pamer keteteh ngajak jalan teteh keliling sukajadi”

“Teh ...” suara Hema kecil hampir tak terdengar.

“Gimana jadi dewasa?” Tanya teh Resha.

“Gak enak teh, nyesel aku dulu pengen cepet dewasa, ternyata jadi dewasa itu rumit, seandainya waktu gak berjalan aku cuma pengen jadi anak sd yang masih lugu yang gak pernah peduli sama omongan orang yang kerjaannya cuma ngejar layangan”

Teh Resha hanya tersenyum mendengar celotehan adik kecilnya.

“Semua orang mau nya gitu, tapi kan engga mungkin. Satu-satunya cara ya hadapin apa yang terjadi, kalo kamu merasa gak sanggup buat jalanin hari kamu ya gpp, istirahat dulu ga usah dipaksain, kalo kamu mau berbagi pikiran mu coba cerita ke teteh” tangan Resha menarik Hema kepelukan hangatnya.

“Teh ... kalo semisal adek teteh yang teteh anggap jagoan dan sempurna itu ternyata ngecewain teteh gimana?”

“Gak mungkin ada orang yang sempurna Hema. Kalo semisal kamu ngecewain teteh ya enggak apa? Mungkin itu fase kamu lagi mendewasakan diri tapi dengan cara yang salah? Kalo kamu ngerasa ngecewain orang yang kamu sayang coba mulai perbaiki diri kamu”

Hema membalas pelukannya dan meneteskan air matanya di pundak sang kakak sulungnya itu.

Resha yang merasakan ada yang basah di pundaknya itu hanya membiarkannya, ia hanya ingin adiknya merasa nyaman dengan cara mengeluarkan emosi yang tak pernah ia tunjukkan.

Hema langsung menjauhkan kepalanya dan mengusap kasar air matanya.

“Kenapa dek?”

“Teh ... setelah aku cerita ini semoga teteh gak mencoba menghakimi aku ya? Aku cuma pengen diterima dan merasa aman”

Resha tak bergeming ia berusaha mendengarkan perkataan yang dilontarkan Hema.

“Teh ... adek kamu gak normal, adek teteh yang teteh anggap jagoan ini cuma pengecut, Hema cuma bisa ngecewain teteh” Hema menundukan kepalanya tak berani menatap sang kakak.

“Hema ... gak suka perempuan, Hema gak normal. Hema gak tau diri ya? Hema minta diterima padahal Hema sendiri gak pantes untuk siapa-siapa”

Tetehnya berusaha diam tak ingin mencemooh adiknya, ia berusaha menepati janji menepati kemauan Hema.

Hema tak berani menatap sang kakak, ia terlalu takut jika Resha menamparnya.

Tapi yang dipikirkan Hema nyatanya tidak terjadi. Tetehnya malah menangkup pipi Hema dan menyuruhnya menatap mata dia.

“Hema, cinta itu gak memandang gender, kamu berhak buat cinta sama siapa pun, kamu berhak sayang sama laki-laki atau perempuan. Jangan merasa gak normal, kamu tetep manusia yang bernafas yang makan nasi kan? Kamu tetep manusia yang berhak disayangi—

—teteh gak maksa kamu harus suka perempuan atau gimana, teteh gak dukung kamu tapi teteh gak marah sama kamu, kamu udah besar jadi kamu tau mana yang baik atau engga buat kamu sendiri” Resha menyatukan tangan Hema dan menggenggam tangan adiknya.

“Jangan takut gak diterima sama dunia, kamu berhak bahagia dengan cara kamu dek”

Hema menangis lagi untuk kedua kalinya dan memeluk sang kakak perempuan satu-satunya.

“Makasih teh, makasih udah bersikap netral sama Hema”

Hari keduanya pun kini mereka habiskan dengan obrolan ringan yang mereka ucapkan.

— ditulis pukul 17:25 @keripikpotato