Keripikpotatoo

13.735 KM.

Haechan berlari disepanjang terminal bandara menuju tempat kedatangan penerbangan dari Canada, hatinya bergemuruh gembira setelah sekian lama tak bertemu dengan Mark, his childhood friend and also his crush.

3 taun Mark meninggalkan ibukota hingga sekarang ia kembali lagi menerima kehangatan dari pelukan Haechan.

“Haechan jangan lari-lari” teriak seorang lelaki dari belakang Haechan yang kini mengejar Haechan, Johnny si kakak sulung Haechan yang kini sedang menemani adiknya menemui kasihnya.

Haechan menunggu tepat di pintu kedatangan, penumpang pesawat mulai keluar dari pintu, dan tak lama menampakan seseorang yang Haechan tunggu, Mark. Dia pulang, dia kembali untuk menghadap Haechan untuk menyatakan perasaannya secara langsung.

Lelaki berkemeja orange itu menarik kopernya berjalan, ia masih belum melihat keberadaan Haechan, masih mencari dimana temannya itu.

“MARK DISINI!!” Teriak Haechan sambil melambaikan tangannya.

Mark menotis keberadaannya, Haechan berlari menuju Mark dan menghamburkan pelukannya.

“MARK” Haechan menubrukan badannya pada Mark dan memeluk Mark erat.

“Calm down hyuck” Mark membalas pelukannya.

“I miss you” Haechan menenggelamkan kepalanya diceruk leher Mark.

“I miss you too hyuck”

Haechan melepaskan pelukannya, ia memandangi wajah Mark yang telah lama ia rindukan.

Dari kejauhan, Johnny memperhatikan adiknya dengan senyuman tipis tercetak di bibirnya, ia mengeluarkan ponselnya lalu mengambil gambar dua insan muda itu.


Setelah mengambil beberapa foto mereka ia menghampiri keduanya.

“Hey whatssup bro?”

_“YO! bang jo long time no see” _ sapa Mark pada johnny layaknya teman pada umumnya mereka melakukan high five sembari memeluk melepas rindu.

Setelah melepas rindu satu sama lain johnny kini mengajak keduanya untuk makan siang di resto cepat saji terdekat.

“Gimana lo di Canada Mark?” Tanya Johnny

“It’s pretty good, but i just feel lonely”

“Poor you” Haechan menyela perkataan Mark.

“Thank i guess??” Setelah berkata itu Mark melahap burgernya.

Beberapa jam mereka bertiga lewati, Johnny kali ini permisi untuk ke toilet.

Kini hanya ada Haechan dan Mark.

“Hyuck karena aku udah pulang, will you be my boyfriend?” Mark menarik tangan Haechan dan menggenggamnya.

“Hmmm gimana ya, sometimes i feel i hate you very very much but at the same time i always missing you and thinking how this stupid boy being flirty to me, so i’ll say yes

Mark mengecup punggung tangan Haechan.


Tempat ini, di bandara keduanya kembali membuat cerita baru, dengan hubungan yang baru, tanpa ada rasa sedih ataupun takut akan kehilangan untuk kedua kalinya, Haechan percaya jika Mark akan berada disampingnya selalu.

Haechan percaya, kemana pun seseorang pergi dan sejauh apapun seseorang itu pergi ia akan kembali ke rumahnya.

Dan Haechan, rumah berpulangnya Mark sejauh apapun Mark pergi meninggalkan dirinya.

13.735 KM.

Haechan berlari disepanjang terminal bandara menuju tempat kedatangan penerbangan dari Canada, hatinya bergemuruh gembira setelah sekian lama tak bertemu dengan Mark, his childhood friend and also his crush.

3 taun Mark meninggalkan ibukota hingga sekarang ia kembali lagi menerima kehangatan dari pelukan Haechan.

“Haechan jangan lari-lari” teriak seorang lelaki dari belakang Haechan yang kini mengejar Haechan, Johnny si kakak sulung Haechan yang kini sedang menemani adiknya menemui kasihnya.

Haechan menunggu tepat di pintu kedatangan, penumpang pesawat mulai keluar dari pintu, dan tak lama menampakan seseorang yang Haechan tunggu, Mark. Dia pulang, dia kembali untuk menghadap Haechan untuk menyatakan perasaannya secara langsung.

Lelaki berkemeja orange itu menarik kopernya berjalan, ia masih belum melihat keberadaan Haechan, masih mencari dimana temannya itu.

“MARK DISINI!!” Teriak Haechan sambil melambaikan tangannya.

Mark menotis keberadaannya, Haechan berlari menuju Mark dan menghamburkan pelukannya.

“MARK” Haechan menubrukan badannya pada Mark dan memeluk Mark erat.

“Calm down hyuck” Mark membalas pelukannya.

“I miss you” Haechan menenggelamkan kepalanya diceruk leher Mark.

“I miss you too hyuck”

Haechan melepaskan pelukannya, ia memandangi wajah Mark yang telah lama ia rindukan.

Dari kejauhan, Johnny memperhatikan adiknya dengan senyuman tipis tercetak di bibirnya, ia mengeluarkan ponselnya lalu mengambil gambar dua insan muda itu.


Setelah mengambil beberapa foto mereka ia menghampiri keduanya.

“Hey whatssup bro?”

_“YO! bang jo long time no see” _ sapa Mark pada johnny layaknya teman pada umumnya mereka melakukan high five sembari memeluk melepas rindu.

Setelah melepas rindu satu sama lain johnny kini mengajak keduanya untuk makan siang di resto cepat saji terdekat.

“Gimana lo di Canada Mark?” Tanya Johnny

“It’s pretty good, but i just feel lonely”

“Poor you” Haechan menyela perkataan Mark.

“Thank i guess??” Setelah berkata itu Mark melahap burgernya.

Beberapa jam mereka bertiga lewati, Johnny kali ini permisi untuk ke toilet.

Kini hanya ada Haechan dan Mark.

“Hyuck karena aku udah pulang, will you be my boyfriend?” Mark menarik tangan Haechan dan menggenggamnya.

“Hmmm gimana ya, sometimes i feel i hate you very very much but at the same time i always missing you and thinking how this stupid boy being flirty to me, so i’ll say yes

Mark mengecup punggung tangan Haechan.


Tempat ini, di bandara keduanya kembali membuat cerita baru, dengan hubungan yang baru, tanpa ada rasa sedih ataupun takut akan kehilangan untuk kedua kalinya, Haechan percaya jika Mark akan berada disampingnya selalu.

Haechan percaya, kemana pun seseorang pergi dan sejauh apapun seseorang itu pergi ia akan kembali ke rumahnya.

Dan Haechan, rumah berpulangnya Mark sejauh apapun Mark pergi meninggalkan dirinya.

Dia datang.


Hema keluar rumahnya membukakan gerbang untuk sahabat kecilnya itu. Tak tahu malu memang tapi itu lah keduanya bersama karena memiliki tingkat keanehan yang beda tipis.

Tak disangka si lelaki berkulit putih itu membawa sebuah parsel buah untuk sahabat karibnya “wih tumben bawa makanan biasanya ngerampok”

“Ya ini juga bawa makanan gara-gara disuruh si mamah”

“Buru ah masuk tiris” ucap Hema.

Keduanya sudah bersantai di ruang televisi ditemani teh dan gorengan yang tadi dibawa oleh teh Resha. Mereka tidak terlalu banyak bicara lantaran sedang bermain game online.

Hema mematikan ponselnya karena sudah kalah, ia menyeruput tehnya dan menyandarkan punggungnya dikaki sofa.

Disusul dengan Radit yang mematikan ponselnya, kini Radit menatap Hema dengan tatapan bingung.

“Kunaon euy maneh?” Tanya Radit memecah kecanggungan

“Tadi teh Resha ke sini, terus ya gitu aing cerita ke dia terus came out”

Radit sontak terkaget karena keberanian Hema, ia tak menyangka jika sahabatnya itu seberani ini.

“Terus teh Resha gimana responnya?” Radit semakin penasaran.

“Ya gak gimana-gimana, gak marah juga tapi pengen aing kembali ke jalan yang lurus”

“Yaudah kalo gitu mah ikutin jalannya waktu ga usah maksain, kalo maneh maksain yang ada stress sendiri. Semangat brader” Radit menepuk pundak Hema pelan.

Tak lama dari situ Azhar datang, ia mengetuk pintu hingga Hema buka kan.

Tok...Tok...Tok....

“Eh itu si azhar kali, kalem aing bukain dulu” ujar Hema pada Radit.

Dilihatnya ia banyak membawa banyak makanan untuk lara temannya.

“Maneh ke sini naik apa jar?” Basa-basi Hema

“Buroq”

“Serius anjing” Hema memukul lengan Radit pelan

“Naik mobil a, tadi mau hujan soalnya. Nih ma bawain” Radit menyodorkan kantung makanan ke Hema keduanya pun bergegas kembali ke ruang telivisi.

Tok...Tok...Tok...

Suara ketukan pintu terdengar lagi

“Jenan kali tuh bukain dit” Azhar menyuruh Radit yang tengah asik mengintip belanjaan yang dibawanya.

“Ganggu aja maneh” Protes Radit.

“Gak usah dit biar aing aja yang buka” Hema memutar lagi badannya ke arah pintu dibukanya pintu dan tampak lah seorang lelaki memakai kaos hitam dan jeans.

Lelaki itu menunduk memainkan ponselnya tak sadar jika sudah dibuka kan pintu oleh Hema.

“Genta?” Tanya Hema.

Genta langsung mendangakan kepalanya menatap orang dihadapannya.

“Hai” raut mukanya berubah menjadi senyum cerah.

“Kirain gak bakal kesini, eh tapi Jenan belom dateng” kata Hema.

Berselang beberapa detik ada seseorang membuka pintu pagar rumahnya, Hema mengintip dari badan Genta.

Jenan, ia baru saja tiba.

“Jen” sapa Hema.

“Yoit ma” Jenan menghampiri keduanya.

“Abang?” Muka jenan terlihat heran “ngapain disini” sambung Jenan.

“Gue? Di ajak Hema ke rumahnya, kebetulan aja gue gak ada janji sama temen gue jadinya ya mampir”

“Oalah” Singkat Jenan

Hema hanya mendengarkan penjelasan Genta itu, dan mempersilahkan keduanya masuk.

“Yaudah ayo masuk” Hema berjalan didepannya sedangkan kedua kakak beradik itu berjalan beriringan dibelakang Hema.

“Oy” sapa Jenan pada Adit dan Azhar

“Eh jen kamana wae atuh jang” sapa Radit sambil menepuk pundak Jenan

“Di rumah lah emang kemana lagi gue?” Ujar Jenan

Ketiganya bercanda tanpa menghiraukan seseorang yang berdiri di samping Hema, hingga pada akhirnya Azhar menyadari kehadiran Genta.

Azhar dan Genta bertatapan beberapa detik, hingga Jenan tersadar lalu memperkenalkan abangnya itu.

“Eh iya kenalin dulu ini abang gue Genta”

“Genta” ucap Genta sambil bersalaman dengan kedua teman Jenan.

“Oh bang Genta yang ketemu gue sama Hema di dimsum du kan?” Tanya Adit.

“Iya bener” jawab Genta singkat.


Kelimanya pun melontarkan candaan hingga larut malam dan tertidur lelap. Tetapi tidak dengan Hema yang masih terjaga.

Ponsel Hema dipenuhi oleh notifikasi bundanya menanyakan kabar ayahnya, Hema terlihat sangat gokus membalas chat hingga tak sadar jika Genta berdiri didepannya.

Ya, ia menginap disini karena sudah terlalu larut jika harus pulang.

“Ma?” Genta mencoba memanggil Hema.

“eh kenapa? Kok belum tidur?” Tanya Hema basa-basi.

“Oh iya abis dari toilet, lo sendiri kenapa gak tidur?” Genta balik bertanya.

“Tadi abis ngambil minum” jawab Hema.

“Mau gue temenin?”

“Gak usah lo tidur aja mending udah malem juga kan” Hema sedang tak ingin diganggu sebab itu ia menyuruh Genta kembali tidur.

“Oh yaudah gue tidur duluan” Genta pun meninggalkan Hema yang duduk di kursi meja makan.

@ keripikpotato

Ditulis pukul 21:45

Hema keluar rumahnya membukakan gerbang untuk sahabat kecilnya itu. Tak tahu malu memang tapi itu lah keduanya bersama karena memiliki tingkat keanehan yang beda tipis.

Tak disangka si lelaki berkulit putih itu membawa sebuah parsel buah untuk sahabat karibnya “wih tumben bawa makanan biasanya ngerampok”

“Ya ini juga bawa makanan gara-gara disuruh si mamah”

“Buru ah masuk tiris” ucap Hema.

Keduanya sudah bersantai di ruang televisi ditemani teh dan gorengan yang tadi dibawa oleh teh Resha. Mereka tidak terlalu banyak bicara lantaran sedang bermain game online.

Hema mematikan ponselnya karena sudah kalah, ia menyeruput tehnya dan menyandarkan punggungnya dikaki sofa.

Disusul dengan Radit yang mematikan ponselnya, kini Radit menatap Hema dengan tatapan bingung.

“Kunaon euy maneh?” Tanya Radit memecah kecanggungan

“Tadi teh Resha ke sini, terus ya gitu aing cerita ke dia terus came out”

Radit sontak terkaget karena keberanian Hema, ia tak menyangka jika sahabatnya itu seberani ini.

“Terus teh Resha gimana responnya?” Radit semakin penasaran.

“Ya gak gimana-gimana, gak marah juga tapi pengen aing kembali ke jalan yang lurus”

“Yaudah kalo gitu mah ikutin jalannya waktu ga usah maksain, kalo maneh maksain yang ada stress sendiri. Semangat brader” Radit menepuk pundak Hema pelan.

Tak lama dari situ Azhar datang, ia mengetuk pintu hingga Hema buka kan.

Tok...Tok...Tok....

“Eh itu si azhar kali, kalem aing bukain dulu” ujar Hema pada Radit.

Dilihatnya ia banyak membawa banyak makanan untuk lara temannya.

“Maneh ke sini naik apa jar?” Basa-basi Hema

“Buroq”

“Serius anjing” Hema memukul lengan Radit pelan

“Naik mobil a, tadi mau hujan soalnya. Nih ma bawain” Radit menyodorkan kantung makanan ke Hema keduanya pun bergegas kembali ke ruang telivisi.

Tok...Tok...Tok....

Suara ketukan pintu terdengar lagi

“Jenan kali tuh bukain dit” Azhar menyuruh Radit yang tengah asik mengintip belanjaan yang dibawanya.

“Ganggu aja maneh”

“Gak usah dit biar aing aja yang buka” Hema memutar lagi badannya ke arah pintu dibukanya pintu dan tampak lah seorang lelaki memakai kaos hitam dan jeans.

Lelaki itu menunduk memainkan ponselnya tak sadar jika sudah dibuka kan pintu oleh Hema.

“Genta?” Tanya Hema.

Genta langsung mendangakan kepalanya menatap orang dihadapannya.

“Hai” raut mukanya berubah menjadi senyum cerah.

“Kirain gak bakal kesini, eh tapi Jenan belom dateng” kata Hema.

Berselang beberapa detik ada seseorang membuka pintu pagar rumahnya, Hema mengintip dari badan Genta.

Jenan, ia baru saja tiba.

“Jen” sapa Hema.

“Yoit ma” Jenan menghampiri keduanya.

“Abang?” Muka jenan terlihat heran “ngapain disini” sambung Jenan.

“Gue? Di ajak Hema ke rumahnya, kebetulan aja gue gak ada janji sama temen gue jadinya ya mampir”

“Oalah” Singkat Jenan

Hema hanya mendengarkan penjelasan Genta itu, dan mempersilahkan keduanya masuk.

“Yaudah ayo masuk” Hema berjalan didepannya sedangkan kedua kakak beradik itu berjalan beriringan dibelakang Hema.

“Oy” sapa Jenan pada Adit dan Azhar

“Eh jen kamana wae atuh jang” sapa Radit sambil menepuk pundak Jenan

“Di rumah lah emang kemana lagi gue?” Ujar Jenan

Ketiganya bercanda tanpa menghiraukan seseorang yang berdiri di samping Hema, hingga pada akhirnya Azhar menyadari kehadiran Genta.

Azhar dan Genta bertatapan beberapa detik, hingga Jenan tersadar lalu memperkenalkan abangnya itu.

“Eh iya kenalin dulu ini abang gue Genta”

“Genta” ucap Genta sambil bersalaman dengan kedua teman Jenan.

“Oh bang Genta yang ketemu gue sama Hema di dimsum du kan?” Tanya Adit.

“Iya bener” jawab Genta singkat.


Kelimanya pun melontarkan candaan hingga larut malam dan tertidur lelap. Tetapi tidak dengan Hema yang masih terjaga.

Ponsel Hema dipenuhi oleh notifikasi bundanya menanyakan kabar ayahnya, Hema terlihat sangat gokus membalas chat hingga tak sadar jika Genta berdiri didepannya.

Ya, ia menginap disini karena sudah terlalu larut jika harus pulang.

“Ma?” Genta mencoba memanggil Hema.

“eh kenapa? Kok belum tidur?” Tanya Hema basa-basi.

“Oh iya abis dari toilet, lo sendiri kenapa gak tidur?” Genta balik bertanya.

“Tadi abis ngambil minum” jawab Hema.

“Mau gue temenin?”

“Gak usah lo tidur aja mending udah malem juga kan” Hema sedang tak ingin diganggu sebab itu ia menyuruh Genta kembali tidur.

“Oh yaudah gue tidur duluan” Genta pun meninggalkan Hema yang duduk di meja makan.

Hema keluar rumahnya membukakan gerbang untuk sahabat kecilnya itu. Tak tahu malu memang tapi itu lah keduanya bersama karena memiliki tingkat keanehan yang beda tipis.

Tak disangka si lelaki berkulit putih itu membawa sebuah parsel buah untuk sahabat karibnya “wih tumben bawa makanan biasanya ngerampok”

“Ya ini juga bawa makanan gara-gara disuruh si mamah”

“Buru ah masuk tiris” ucap Hema.

Keduanya sudah bersantai di ruang televisi ditemani teh dan gorengan yang tadi dibawa oleh teh Resha. Mereka tidak terlalu banyak bicara lantaran sedang bermain game online.

Hema mematikan ponselnya karena sudah kalah, ia menyeruput tehnya dan menyandarkan punggungnya dikaki sofa.

Disusul dengan Radit yang mematikan ponselnya, kini Radit menatap Hema dengan tatapan bingung.

“Kunaon euy maneh?” Tanya Radit memecah kecanggungan

“Tadi teh Resha ke sini, terus ya gitu aing cerita ke dia terus came out”

Radit sontak terkaget karena keberanian Hema, ia tak menyangka jika sahabatnya itu seberani ini.

“Terus teh Resha gimana responnya?” Radit semakin penasaran.

“Ya gak gimana-gimana, gak marah juga tapi pengen aing kembali ke jalan yang lurus”

“Yaudah kalo gitu mah ikutin jalannya waktu ga usah maksain, kalo maneh maksain yang ada stress sendiri. Semangat brader” Radit menepuk pundak Hema pelan.

Tak lama dari situ Azhar datang, ia mengetuk pintu hingga Hema buka kan.

Tok...Tok...Tok....

“Eh itu si azhar kali, kalem aing bukain dulu” ujar Hema pada Radit.

Dilihatnya ia banyak membawa banyak makanan untuk lara temannya.

“Maneh ke sini naik apa jar?” Basa-basi Hema

“Buroq”

“Serius anjing” Hema memukul lengan Radit pelan

“Naik mobil a, tadi mau hujan soalnya. Nih ma bawain” Radit menyodorkan kantung makanan ke Hema keduanya pun bergegas kembali ke ruang telivisi.

Tok...Tok...Tok....

Suara ketukan pintu terdengar lagi

“Jenan kali tuh bukain dit” Azhar menyuruh Radit yang tengah asik mengintip belanjaan yang dibawanya.

“Ganggu aja maneh”

“Gak usah dit biar aing aja yang buka” Hema memutar lagi badannya ke arah pintu dibukanya pintu dan tampak lah seorang lelaki memakai kaos hitam dan jeans.

Lelaki itu menunduk memainkan handphonenya tak sadar jika sudah dibuka kan pintu oleh Hema.

“Genta?” Tanya Hema.

Genta langsung mendangakan kepalanya menatap orang dihadapannya.

“Hai” raut mukanya berubah menjadi senyum cerah.

“Kirain gak bakal kesini, eh tapi Jenan belom dateng” kata Hema.

Berselang beberapa detik ada seseorang membuka pintu pagar rumahnya, Hema mengintip dari badan Genta.

Jenan, ia baru saja tiba.

“Jen” sapa Hema.

“Yoit ma” Jenan menghampiri keduanya.

“Abang?” Muka jenan terlihat heran “ngapain disini” sambung Jenan.

“Gue? Di ajak Hema ke rumahnya, kebetulan aja gue gak ada janji sama temen gue jadinya ya mampir”

“Oalah”

Hema hanya mendengarkan penjelasan Genta itu, dan mempersilahkan keduanya masuk.

“Yaudah ayo masuk” Hema berjalan didepannya sedangkan kedua kakak beradik itu berjalan beriringan dibelakang Hema.

“Oy” sapa Jenan pada Radit dan Azhar

“Eh jen kamana wae atuh jang” sapa Adit sambil menepuk pundak Jenan

“Di rumah lah emang kemana lagi gue?” Ujar Jenan

Ketiganya bercanda tanpa menghiraukan seseorang yang berdiri di samping Hema, hingga pada akhirnya Azhar menyadari kehadiran Genta.

Azhar dan Genta bertatapan beberapa detik, hingga Jenan tersadar lalu memperkenalkan abangnya itu.

“Eh iya kenalin dulu ini abang gue Genta”

“Genta” ucap Genta sambil bersalaman dengan kedua teman Jenan.

“Oh bang Genta yang ketemu gue sama Hema di dimsum du kan?” Tanya Radit.

“Iya bener” jawab Genta singkat.


Kelimanya pun melontarkan candaan hingga larut malam dan tertidur lelap. Tetapi tidak dengan Hema yang masih terjaga.

Ia duduk seorang diri di kursi meja makan memperhatikan handphonenya

Handphone Hema dipenuhi oleh notifikasi bundanya menanyakan kabar ayahnya, Hema terlihat sangat fokus membalas chat hingga tak sadar jika Genta berdiri didepannya.

Ya, ia menginap disini karena sudah terlalu larut jika harus pulang.

“Ma?” Genta mencoba memanggil Hema.

“eh, kenapa? Kok belum tidur?” Tanya Hema basa-basi.

”Gue abis dari toilet, lo sendiri kenapa gak tidur?” Genta balik bertanya.

“Tadi abis ngambil minum” jawab Hema.

“Mau gue temenin?”

“Gak usah lo tidur aja mending udah malem juga kan” Hema sedang tak ingin diganggu sebab itu ia menyuruh Genta kembali tidur.

“Oh yaudah gue tidur duluan” Genta pun meninggalkan Hema yang duduk di meja makan.

@ keripikpotato

Ditulis pukul 21:45.

Pepero day.

Tanggal sebelas bulan November dikenal juga dengan pepero day. Dimana para anak muda di korea saling bertukar makanan ringan itu, lain halnya dengan Donghyuck ia malah memakan pepero sendiri sembari membaca novel.

Pemuda bernama Donghyuck itu kini sedang duduk di sofa ruang tengah, meluruskan kakinya dan mendaratkan kakinya di meja seberang.

Donghyuck terlalu fokus dengan bukunya hingga tak sadar jika handphone nya berada dikamar dan terdapat missed call dari sang kekasih yang bernama Mark.

Tak disangka, sang pelaku spam chat itu kini tengah berdiri dipintu rumah Donghyuck, sambil menunggu dibukakan pintu Mark bersenandung dan melipat tangan didepan dadanya.

Terlihat di tangan Mark terdapat sebuah kantung belanjaan berisi camilan kesukaan Donghyuck dan tentu pepero.

Karena tak kunjung dibukakan pintu Mark menerobos masuk ke rumah Donghyuck, dilihatnya sang kekasih itu sedang asik membaca tanpa sadar akan hal sekitarnya.

Lantas Mark langsung duduk disamping Donghyuck, tanpa permisi Mark menyambar pepero di mulut Donghyuck hingga bibir keduanya saling bersentuhan.

“HUMMPH” mata Donghyuck terbelalak kaget karena sang kekasih ada didepan mata.

Mark yang melihat reaksi Donghyuck pun langsung menjauhkan wajahnya.

“KAK??? Kok kamu kesini gak bilang?” Tanya Donghyuck menatap mata Mark sedikit sinis.

“Apanya yang ga bilang? Aku udah chat kamu bahkan nelepon kamu tapi ga diangkat” Mark berkata sambil menaruh kantung bawaannya dimeja.

“hah iya kah? Loh hp ku dimana ya? WAIT” Donghyuck langsung bangun dari duduknya lalu berlari kekamarnya dan mengambil handphonenya.

Tak butuh waktu lama Donghyuck kembli ke ruang televisi.

“Hehehe iya juga kamu nge spam chat” Donghyuck terkekeh dan berlari ke arah Mark tapi naas nya ia harus tersandung dan jatuh tepat di badan Mark.

“Aduh sakit” Donghyuck meringis kesakitan, Mark pun mengangkat pantat Donghyuck membenarkan posisi duduk dipangkuannya.

“Makanya sayang, kalo jalan itu pelan-pelan” Mark mengusak rambut sang kekasih dan mengecup bibir plum Donghyuck.

“Udah makan lagi sana, aku juga beli es krim tadi”

“MAUUU” Donghyuck bersorak gembira karena kekasihnya membawa makanan kesukaannya.

Mark mengambil es krim yang ada dikantung belanjaannya, lalu ia membuka bungkus es krim itu.

“Aku ada cara makan es krim baru, mau coba?” Tanya Mark.

“Huh gimana? Coba kasih tau” Donghyuck merasa penasaran dan meminta Mark untuk menunjukan cara makan es krim versinya

Bukannya memberikan pada pacarnya ia malah memakan es krim itu.

“KOK DIMAKAN???”

Mark tak memperdulikan teriakan Donghyuck, satu tangannya kini menarik dagu Donghyuck dan menautkan bibirnya ke bibir Donghyuck.

Lidah keduanya beradu, Mark pun menransfer es krim yang ada di mulutnya ke mulut sang pacar.

“Enak gak?”

“Enak, mau lagi boleh?”

Mark tersenyum dan mengulang kegiatan yang mereka berdua lakukan tadi hingga es krim habis.

“Gemes” Mark mengecup bibir Donghyuck.

“Diem bibirku jadi blepotan”

“Yang minta lagi siapa?”

Donghyuck pun hanya balas dengan kekehan.

“Oh iya kak Mark bawa pepero? Stock pepero yang dibeliin mama udah abis”

“Bawa dong tuh ambil di kantong makanan”

Donghyuck langsung mengambil pepero yang ada dikantung dan membukanya.

Ia menaruh satu stick pepero kemulut Mark dan memakannya.

“Today is pepero days” Donghyuck menatap lekat Mark dari dekat.

“No, today is kiss Donghyuck days” Mark menangkup pipi gembul Donghyuck dan mencium bibir yang menjadi candunya itu lagi.

Keduanya saling berbagi afeksi, dan bertukar saliva, tangan Donghyuck kini sudah melingkar di leher Mark dengan sempurna. Sedangkan tangan Mark berada dipinggang ramping sang sub.

Tangannya menelusup masuk mengelus pinggang Donghyuck dari dalam baju.

Pasokan udara Donghyuck kian menipis Mark pun langsung menjauhkan bibirnya dari bibir Donghyuck.

“Bibir kamu hari ini manis banget”

“Kan aku makan manis mulu” kata Donghyuck.

“gak boleh makan manis-manis, kasian gula nya insecure soalnya kamu lebih manis”

“Ih apa sih belajar gombal dari siapa?”

“Gak ada yang ajarin tapi beneran manis” Mark mengeratkan tangannya di pinggang Haechan hingga badan keduanya menempel.

“Berisik, diem ah” muka Donghyuck terlihat seperti kepiting rebus, walau keduanya sudah berpacaran selama 8 bulan tapi tetap saja jika Mark melontarkan kata-kata manis Donghyuck akan salang tingkah hingga mukanya memerah.

“Tuh kan gemes” Mark tersenyum dan mengecup dua pipi Donghyuck bergantian.

“Ih apa sih” Donghyuck semakin salah tingkah rasanya, ia pun pergi ke kamar mandi meninggalkan Mark karena tak tahan rasa malunya itu.

Mark hanya tersenyum gemas melihat tingkah sang pacar.


Setelah menyelesaikan salah tingkahnya Donghyuck pun kembali duduk di samping Mark. Ia merebahkan kepalanya di paha sang dominan.

Dan melanjutkan baca buku yang belum sempat ia selesaikan.

“Kak pepero” Mark menyuapkan pepero ke mulut Donghyuck.

Jika Mark lihat, Donghyuck mengunyah sangat lucu pipi gembulnya bergerak layaknya bayi sedang makan.

“kak pepero” kali ini Mark menyuapkan pepero lewat mulutnya, hingga bibir keduanya saling bersentuhan hingga kesekian kalinya.

“Kak pepero”

“Kak pepero” Mark masih memberi pepero yang diselipkan kecupan di akhirnya.

“Ih kamu modus ya cium aku terus”

“Iya kan emang” Mark mengusak rambut Donghyuck.

“Kak”

“Apa? Pepero lagi? Udah abis”

“Bukannnn” sanggah Donghyuck

“Terus apa?” Tanya Mark

“Kak cium lagi” Donghyuck menutup buku yang ia baca, dan menutup matanya.

“Mauan” Mark pun tanpa babibu memberi ciuman pada sang kekasih.

“Ngantuk mau tidur” Donghyuck berbicara tanpa membuka matanya, ia memiringkan mukanya ke arah perut Mark.

Donghyuck senang mendusal di perut Mark, tapi rasanya kini ada yang beda tangannya meraba perut Mark “loh kakak nge gym lagi?”

“Iya sayang, kenapa?” Tanya Mark sambil mengelus rambut cokelat Donghyuck.

“Gapapa biasanya dusel di perut bayi kakak sekarang keras”

“Yang perut bayi mah kamu” tangan Mark kini menuju perut bayi Haechan dan mengelusnya.

“Ih diem geli” Donghyuck menjauhkan tangan sang dominan dari perutnya.

“Katanya ngantuk, tidur sana”

“Temenin ya? Kakak nginep aja sekalian mau cuddle”

“Iya sayang, kalo gitu pindah kamar aja yuk”

“Gendong”

“Manja banget bayi” Mark langsung menggendong tubuh Donghyuck yang lebih kecil itu ke kamar milih Donghyuck, keduanya pun kini pergi ke alam mimpi.

  • fin.

Pepero day.

Tanggal sebelas bulan November dikenal juga dengan pepero day. Dimana para anak muda di korea saling bertukar makanan ringan itu, lain halnya dengan Donghyuck ia malah memakan pepero sendiri sembari membaca novel.

Pemuda bernama Donghyuck itu kini sedang duduk di sofa ruang tengah, meluruskan kakinya dan mendaratkan kakinya di meja seberang.

Donghyuck terlalu fokus dengan bukunya hingga tak sadar jika handphone nya berada dikamar dan terdapat missed call dari sang kekasih yang bernama Mark.

Tak disangka, sang pelaku spam chat itu kini tengah berdiri dipintu rumah Donghyuck, sambil menunggu dibukakan pintu Mark bersenandung dan melipat tangan didepan dadanya.

Terlihat di tangan Mark terdapat sebuah kantung belanjaan berisi camilan kesukaan Donghyuck dan tentu pepero.

Karena tak kunjung dibukakan pintu Mark menerobos masuk ke rumah Donghyuck, dilihatnya sang kekasih itu sedang asik membaca tanpa sadar akan hal sekitarnya.

Lantas Mark langsung duduk disamping Donghyuck, tanpa permisi Mark menyambar pepero di mulut Donghyuck hingga bibir keduanya saling bersentuhan.

“HUMMPH” mata Donghyuck terbelalak kaget karena sang kekasih ada didepan mata.

Mark yang melihat reaksi Donghyuck pun langsung menjauhkan wajahnya.

“KAK??? Kok kamu kesini gak bilang?” Tanya Donghyuck menatap mata Mark sedikit sinis.

“Apanya yang ga bilang? Aku udah chat kamu bahkan nelepon kamu tapi ga diangkat” Mark berkata sambil menaruh kantung bawaannya dimeja.

“hah iya kah? Loh hp ku dimana ya? WAIT” Donghyuck langsung bangun dari duduknya lalu berlari kekamarnya dan mengambil handphonenya.

Tak butuh waktu lama Donghyuck kembli ke ruang televisi.

“Hehehe iya juga kamu nge spam chat” Donghyuck terkekeh dan berlari ke arah Mark tapi naas nya ia harus tersandung dan jatuh tepat di badan Mark.

“Aduh sakit” Donghyuck meringis kesakitan, Mark pun mengangkat pantat Donghyuck membenarkan posisi duduk dipangkuannya.

“Makanya sayang, kalo jalan itu pelan-pelan” Mark mengusak rambut sang kekasih dan mengecup bibir plum Donghyuck.

“Udah makan lagi sana, aku juga beli es krim tadi”

“MAUUU” Donghyuck bersorak gembira karena kekasihnya membawa makanan kesukaannya.

Mark mengambil es krim yang ada dikantung belanjaannya, lalu ia membuka bungkus es krim itu.

“Aku ada cara makan es krim baru, mau coba?” Tanya Mark.

“Huh gimana? Coba kasih tau” Donghyuck merasa penasaran dan meminta Mark untuk menunjukan cara makan es krim versinya

Bukannya memberikan pada pacarnya ia malah memakan es krim itu.

“KOK DIMAKAN???”

Mark tak memperdulikan teriakan Donghyuck, satu tangannya kini menarik dagu Donghyuck dan menautkan bibirnya ke bibir Donghyuck.

Lidah keduanya beradu, Mark pun menransfer es krim yang ada di mulutnya ke mulut sang pacar.

“Enak gak?”

“Enak, mau lagi boleh?”

Mark tersenyum dan mengulang kegiatan yang mereka berdua lakukan tadi hingga es krim habis.

“Gemes” Mark mengecup bibir Donghyuck.

“Diem bibirku jadi blepotan”

“Yang minta lagi siapa?”

Donghyuck pun hanya balas dengan kekehan.

“Oh iya kak Mark bawa pepero? Stock pepero yang dibeliin mama udah abis”

“Bawa dong tuh ambil di kantong makanan”

Donghyuck langsung mengambil pepero yang ada dikantung dan membukanya.

Ia menaruh satu stick pepero kemulut Mark dan memakannya.

“Today is pepero days” Donghyuck menatap lekat Mark dari dekat.

“No, today is kiss Donghyuck days” Mark menangkup pipi gembul Donghyuck dan mencium bibir yang menjadi candunya itu lagi.

Keduanya saling berbagi afeksi, dan bertukar saliva, tangan Donghyuck kini sudah melingkar di leher Mark dengan sempurna. Sedangkan tangan Mark berada dipinggang ramping sang sub.

Tangannya menelusup masuk mengelus pinggang Donghyuck dari dalam baju.

Pasokan udara Donghyuck kian menipis Mark pun langsung menjauhkan bibirnya dari bibir Donghyuck.

“Bibir kamu hari ini manis banget”

“Kan aku makan manis mulu” kata Donghyuck.

“gak boleh makan manis-manis, kasian gula nya insecure soalnya kamu lebih manis”

“Ih apa sih belajar gombal dari siapa?”

“Gak ada yang ajarin tapi beneran manis” Mark mengeratkan tangannya di pinggang Haechan hingga badan keduanya menempel.

“Berisik, diem ah” muka Donghyuck terlihat seperti kepiting rebus, walau keduanya sudah berpacaran selama 8 bulan tapi tetap saja jika Mark melontarkan kata-kata manis Donghyuck akan salang tingkah hingga mukanya memerah.

“Tuh kan gemes” Mark tersenyum dan mengecup dua pipi Donghyuck bergantian.

“Ih apa sih” Donghyuck semakin salah tingkah rasanya, ia pun pergi ke kamar mandi meninggalkan Mark karena tak tahan rasa malunya itu.

Mark hanya tersenyum gemas melihat tingkah sang pacar.

– – –

Setelah menyelesaikan salah tingkahnya Donghyuck pun kembali duduk di samping Mark. Ia merebahkan kepalanya di paha sang dominan.

Dan melanjutkan baca buku yang belum sempat ia selesaikan.

“Kak pepero” Mark menyuapkan pepero ke mulut Donghyuck.

Jika Mark lihat, Donghyuck mengunyah sangat lucu pipi gembulnya bergerak layaknya bayi sedang makan.

“kak pepero” kali ini Mark menyuapkan pepero lewat mulutnya, hingga bibir keduanya saling bersentuhan hingga kesekian kalinya.

“Kak pepero”

“Kak pepero” Mark masih memberi pepero yang diselipkan kecupan di akhirnya.

“Ih kamu modus ya cium aku terus”

“Iya kan emang” Mark mengusak rambut Donghyuck.

“Kak”

“Apa? Pepero lagi? Udah abis”

“Bukannnn” sanggah Donghyuck

“Terus apa?” Tanya Mark

“Kak cium lagi” Donghyuck menutup buku yang ia baca, dan menutup matanya.

“Mauan” Mark pun tanpa babibu memberi ciuman pada sang kekasih.

“Ngantuk mau tidur” Donghyuck berbicara tanpa membuka matanya, ia memiringkan mukanya ke arah perut Mark.

Donghyuck senang mendusal di perut Mark, tapi rasanya kini ada yang beda tangannya meraba perut Mark “loh kakak nge gym lagi?”

“Iya sayang, kenapa?” Tanya Mark sambil mengelus rambut cokelat Donghyuck.

“Gapapa biasanya dusel di perut bayi kakak sekarang keras”

“Yang perut bayi mah kamu” tangan Mark kini menuju perut bayi Haechan dan mengelusnya.

“Ih diem geli” Donghyuck menjauhkan tangan sang dominan dari perutnya.

“Katanya ngantuk, tidur sana”

“Temenin ya? Kakak nginep aja sekalian mau cuddle”

“Iya sayang, kalo gitu pindah kamar aja yuk”

“Gendong”

“Manja banget bayi” Mark langsung menggendong tubuh Donghyuck yang lebih kecil itu ke kamar milih Donghyuck, keduanya pun kini pergi ke alam mimpi.

  • fin.

Pepero day.

Tanggal sebelas bulan November dikenal juga dengan pepero day. Dimana para anak muda di korea saling bertukar makanan ringan itu, lain halnya dengan Donghyuck ia malah memakan pepero sendiri sembari membaca novel.

Pemuda bernama Donghyuck itu kini sedang duduk di sofa ruang tengah, meluruskan kakinya dan mendaratkan kakinya di meja seberang.

Donghyuck terlalu fokus dengan bukunya hingga tak sadar jika handphone nya berada dikamar dan terdapat missed call dari sang kekasih yang bernama Mark.

Tak disangka, sang pelaku spam chat itu kini tengah berdiri dipintu rumah Donghyuck, sambil menunggu dibukakan pintu Mark bersenandung dan melipat tangan didepan dadanya.

Terlihat di tangan Mark terdapat sebuah kantung belanjaan berisi camilan kesukaan Donghyuck dan tentu pepero.

Karena tak kunjung dibukakan pintu Mark menerobos masuk ke rumah Donghyuck, dilihatnya sang kekasih itu sedang asik membaca tanpa sadar akan hal sekitarnya.

Lantas Mark langsung duduk disamping Donghyuck, tanpa permisi Mark menyambar pepero di mulut Donghyuck hingga bibir keduanya saling bersentuhan.

“HUMMPH” mata Donghyuck terbelalak kaget karena sang kekasih ada didepan mata.

Mark yang melihat reaksi Donghyuck pun langsung menjauhkan wajahnya.

“KAK??? Kok kamu kesini gak bilang?” Tanya Donghyuck menatap mata Mark sedikit sinis.

“Apanya yang ga bilang? Aku udah chat kamu bahkan nelepon kamu tapi ga diangkat” Mark berkata sambil menaruh kantung bawaannya dimeja.

“hah iya kah? Loh hp ku dimana ya? WAIT” Donghyuck langsung bangun dari duduknya lalu berlari kekamarnya dan mengambil handphonenya.

Tak butuh waktu lama Donghyuck kembli ke ruang televisi.

“Hehehe iya juga kamu nge spam chat” Donghyuck terkekeh dan berlari ke arah Mark tapi naas nya ia harus tersandung dan jatuh tepat di badan Mark.

“Aduh sakit” Donghyuck meringis kesakitan, Mark pun mengangkat pantat Donghyuck membenarkan posisi duduk dipangkuannya.

“Makanya sayang, kalo jalan itu pelan-pelan” Mark mengusak rambut sang kekasih dan mengecup bibir plum Donghyuck.

“Udah makan lagi sana, aku juga beli es krim tadi”

“MAUUU” Donghyuck bersorak gembira karena kekasihnya membawa makanan kesukaannya.

Mark mengambil es krim yang ada dikantung belanjaannya, lalu ia membuka bungkus es krim itu.

“Aku ada cara makan es krim baru, mau coba?” Tanya Mark.

“Huh gimana? Coba kasih tau” Donghyuck merasa penasaran dan meminta Mark untuk menunjukan cara makan es krim versinya

Bukannya memberikan pada pacarnya ia malah memakan es krim itu.

“KOK DIMAKAN???”

Mark tak memperdulikan teriakan Donghyuck, satu tangannya kini menarik dagu Donghyuck dan menautkan bibirnya ke bibir Donghyuck.

Lidah keduanya beradu, Mark pun menransfer es krim yang ada di mulutnya ke mulut sang pacar.

“Enak gak?”

“Enak, mau lagi boleh?”

Mark tersenyum dan mengulang kegiatan yang mereka berdua lakukan tadi hingga es krim habis.

“Gemes” Mark mengecup bibir Donghyuck.

“Diem bibirku jadi blepotan”

“Yang minta lagi siapa?”

Donghyuck pun hanya balas dengan kekehan.

“Oh iya kak Mark bawa pepero? Stock pepero yang dibeliin mama udah abis”

“Bawa dong tuh ambil di kantong makanan”

Donghyuck langsung mengambil pepero yang ada dikantung dan membukanya.

Ia menaruh satu stick pepero kemulut Mark dan memakannya.

“Today is pepero days” Donghyuck menatap lekat Mark dari dekat.

“No, today is kiss Donghyuck days” Mark menangkup pipi gembul Donghyuck dan mencium bibir yang menjadi candunya itu lagi.

Keduanya saling berbagi afeksi, dan bertukar saliva, tangan Donghyuck kini sudah melingkar di leher Mark dengan sempurna. Sedangkan tangan Mark berada dipinggang ramping sang sub.

Tangannya menelusup masuk mengelus pinggang Donghyuck dari dalam baju.

Pasokan udara Donghyuck kian menipis Mark pun langsung menjauhkan bibirnya dari bibir Donghyuck.

“Bibir kamu hari ini manis banget”

“Kan aku makan manis mulu” kata Donghyuck.

“gak boleh makan manis-manis, kasian gula nya insecure soalnya kamu lebih manis”

“Ih apa sih belajar gombal dari siapa?”

“Gak ada yang ajarin tapi beneran manis” Mark mengeratkan tangannya di pinggang Haechan hingga badan keduanya menempel.

“Berisik, diem ah” muka Donghyuck terlihat seperti kepiting rebus, walau keduanya sudah berpacaran selama 8 bulan tapi tetap saja jika Mark melontarkan kata-kata manis Donghyuck akan salang tingkah hingga mukanya memerah.

“Tuh kan gemes” Mark tersenyum dan mengecup dua pipi Donghyuck bergantian.

“Ih apa sih” Donghyuck semakin salah tingkah rasanya, ia pun pergi ke kamar mandi meninggalkan Mark karena tak tahan rasa malunya itu.

Mark hanya tersenyum gemas melihat tingkah sang pacar.

– – –

Setelah menyelesaikan salah tingkahnya Donghyuck pun kembali duduk di samping Mark. Ia merebahkan kepalanya di paha sang dominan.

Dan melanjutkan baca buku yang belum sempat ia selesaikan.

“Kak pepero” Mark menyuapkan pepero ke mulut Donghyuck.

Jika Mark lihat, Donghyuck mengunyah sangat lucu pipi gembulnya bergerak layaknya bayi sedang makan.

“kak pepero” kali ini Mark menyuapkan pepero lewat mulutnya, hingga bibir keduanya saling bersentuhan hingga kesekian kalinya.

“Kak pepero”

“Kak pepero” Mark masih memberi pepero yang diselipkan kecupan di akhirnya.

“Ih kamu modus ya cium aku terus”

“Iya kan emang” Mark mengusak rambut Donghyuck.

“Kak”

“Apa? Pepero lagi? Udah abis”

“Bukannnn” sanggah Donghyuck

“Terus apa?” Tanya Mark

“Kak cium lagi” Donghyuck menutup buku yang ia baca, dan menutup matanya.

“Mauan” Mark pun tanpa babibu memberi ciuman pada sang kekasih.

“Ngantuk mau tidur” Donghyuck berbicara tanpa membuka matanya, ia memiringkan mukanya ke arah perut Mark.

Donghyuck senang mendusal di perut Mark, tapi rasanya kini ada yang beda tangannya meraba perut Mark “loh kakak nge gym lagi?”

“Iya sayang, kenapa?” Tanya Mark sambil mengelus rambut cokelat Donghyuck.

“Gapapa biasanya dusel di perut bayi kakak sekarang keras”

“Yang perut bayi mah kamu” tangan Mark kini menuju perut bayi Haechan dan mengelusnya.

“Ih diem geli” Donghyuck menjauhkan tangan sang dominan dari perutnya.

“Katanya ngantuk, tidur sana”

“Temenin ya? Kakak nginep aja sekalian mau cuddle”

“Iya sayang, kalo gitu pindah kamar aja yuk”

“Gendong”

“Manja banget bayi” Mark langsung menggendong tubuh Donghyuck yang lebih kecil itu ke kamar milih Donghyuck, keduanya pun kini pergi ke alam mimpi.

  • fin.

Gimana jadi dewasa?

Terlihat jam menunjukan pukul 11:05 WIB. Matahari pun semakin naik, Hema kini bersantai di ruang tamu sembari mengecek hp nya siapa tau ada pesan masuk dari tetehnya itu.

Ia menaruh hp nya di meja depannya, pikirannya entah kemana melayang memikirkan yang belum tentu terjadi.


Hema lelaki kelahiran Juni ini bukan seseorang yang bisa dipanggil social butterfly, temannya tak banyak bahkan bisa dihitung jari. Ia tak terlalu suka nongkrong di cafe hits Bandung atau motoran keliling kota, rasanya itu bukan Hema banget.

Dia itu lelaki pemikir dan selalu berkecil hati, terlihat dari masa SD hingga SMA nya ia merasa iri dengan temannya, baik dalam bidang akademi mau pun bakat.

Ia selalu berpikir ia tak berguna, dan menyusahkan, ia juga merasa di dalam dirinya tak ada yang spesial, padahal dia itu beda dari pemuda seumurannya.

Hema itu ... pekerja keras, tak kritis tapi bisa puitis, pemikir dan pintar dalam menyembunyikan emosinya. Hema itu hebat, anak baik yang kuat.


Kembali dimana Hema menunggu sang teteh pulang. Rencana awal Hema hari ini ingin mengakui jika diantak menyukai perempuan, ia yakin jika bercerita pada Teh Resha adalah pilihan yang tepat.

Karena ... teh Resha satu-satunya orang yang paham dengan keadaannya, dan tak pernah memaksa Hema untuk bercerita, Hema merasa nyaman dengan itu.

Tok... tok... tok...

Pintu diketuk terlihat dari balik jendela terdapat seorang perempuan lebih tua 4 tahun darinya.

Hema bergegas membuka pintu, dan ya tepat dihadapannya adalah tetehnya.

Tangan Hema langsung mengarah ke kresek yang dibawa teh Resha.

“Orang mah kalo teteh nya pulang tuh salam atau peluk ini malah kabur bawa makanan” sindir teh Resha.

“Ya maaf lagi kelaperan” Hema sedikit berteriak karena setelah mengambil kresek bawaan teh Resha ia langsung pergi ke dapur mengambil piring.

Keduanya kini duduk diruang televisi. Hema duduk dilantai begitu pula dengan sang teteh.

Hema membuka belanjaan tetehnya dan mengeluarkan makanan tersebut dari plastik dan langsung memakan makanan yang dibawa sang teteh begitu lahap, yang membawa makanan malahan hanya tertawa kecil karena melihat tingkah adiknya itu.

Tatapan teh resha sendu, matanya seperti menahan agar air mata tak turun membasahi pipinya. Tangannya itu mengelus surai cokelat sang adik.

Hema langsung memberhentikan kegiatan makannya, dengan mulut yang penuh makanan ia menatap ke arah tetehnya.

“Engga kerasa dek kamu udah gede ya? Perasaan baru kemarin lulus SMP minta diajarin motor, pas udah bisa kamu pamer keteteh ngajak jalan teteh keliling sukajadi”

“Teh ...” suara Hema kecil hampir tak terdengar.

“Gimana jadi dewasa?” Tanya teh Resha.

“Gak enak teh, nyesel aku dulu pengen cepet dewasa, ternyata jadi dewasa itu rumit, seandainya waktu gak berjalan aku cuma pengen jadi anak sd yang masih lugu yang gak pernah peduli sama omongan orang yang kerjaannya cuma ngejar layangan”

Teh Resha hanya tersenyum mendengar celotehan adik kecilnya.

“Semua orang mau nya gitu, tapi kan engga mungkin. Satu-satunya cara ya hadapin apa yang terjadi, kalo kamu merasa gak sanggup buat jalanin hari kamu ya gpp, istirahat dulu ga usah dipaksain, kalo kamu mau berbagi pikiran mu coba cerita ke teteh” tangan Resha menarik Hema kepelukan hangatnya.

“Teh ... kalo semisal adek teteh yang teteh anggap jagoan dan sempurna itu ternyata ngecewain teteh gimana?”

“Gak mungkin ada orang yang sempurna Hema. Kalo semisal kamu ngecewain teteh ya enggak apa? Mungkin itu fase kamu lagi mendewasakan diri tapi dengan cara yang salah? Kalo kamu ngerasa ngecewain orang yang kamu sayang coba mulai perbaiki diri kamu”

Hema membalas pelukannya dan meneteskan air matanya di pundak sang kakak sulungnya itu.

Resha yang merasakan ada yang basah di pundaknya itu hanya membiarkannya, ia hanya ingin adiknya merasa nyaman dengan cara mengeluarkan emosi yang tak pernah ia tunjukkan.

Hema langsung menjauhkan kepalanya dan mengusap kasar air matanya.

“Kenapa dek?”

“Teh ... setelah aku cerita ini semoga teteh gak mencoba menghakimi aku ya? Aku cuma pengen diterima dan merasa aman”

Resha tak bergeming ia berusaha mendengarkan perkataan yang dilontarkan Hema.

“Teh ... adek kamu gak normal, adek teteh yang teteh anggap jagoan ini cuma pengecut, Hema cuma bisa ngecewain teteh” Hema menundukan kepalanya tak berani menatap sang kakak.

“Hema ... gak suka perempuan, Hema gak normal. Hema gak tau diri ya? Hema minta diterima padahal Hema sendiri gak pantes untuk siapa-siapa”

Tetehnya berusaha diam tak ingin mencemooh adiknya, ia berusaha menepati janji menepati kemauan Hema.

Hema tak berani menatap sang kakak, ia terlalu takut jika Resha menamparnya.

Tapi yang dipikirkan Hema nyatanya tidak terjadi. Tetehnya malah menangkup pipi Hema dan menyuruhnya menatap mata dia.

“Hema, cinta itu gak memandang gender, kamu berhak buat cinta sama siapa pun, kamu berhak sayang sama laki-laki atau perempuan. Jangan merasa gak normal, kamu tetep manusia yang bernafas yang makan nasi kan? Kamu tetep manusia yang berhak disayangi—

—teteh gak maksa kamu harus suka perempuan atau gimana, teteh gak dukung kamu tapi teteh gak marah sama kamu, kamu udah besar jadi kamu tau mana yang baik atau engga buat kamu sendiri” Resha menyatukan tangan Hema dan menggenggam tangan adiknya.

“Jangan takut gak diterima sama dunia, kamu berhak bahagia dengan cara kamu dek”

Hema menangis lagi untuk kedua kalinya dan memeluk sang kakak perempuan satu-satunya.

“Makasih teh, makasih udah bersikap netral sama Hema”

Hari keduanya pun kini mereka habiskan dengan obrolan ringan yang mereka ucapkan.

— ditulis pukul 17:25 @keripikpotato

Gimana jadi dewasa?

Terlihat jam menunjukan pukul 11:05 WIB. Matahari pun semakin naik, Hema kini bersantai di ruang tamu sembari mengecek hp nya siapa tau ada pesan masuk dari tetehnya itu.

Ia menaruh hp nya di meja depannya, pikirannya entah kemana melayang memikirkan yang belum tentu terjadi.

—-

Hema lelaki kelahiran Juni ini bukan seseorang yang bisa dipanggil social butterfly, temannya tak banyak bahkan bisa dihitung jari. Ia tak terlalu suka nongkrong di cafe hits Bandung atau motoran keliling kota, rasanya itu bukan Hema banget.

Dia itu lelaki pemikir dan selalu berkecil hati, terlihat dari masa SD hingga SMA nya ia merasa iri dengan temannya, baik dalam bidang akademi mau pun bakat.

Ia selalu berpikir ia tak berguna, dan menyusahkan, ia juga merasa di dalam dirinya tak ada yang spesial, padahal dia itu beda dari pemuda seumurannya.

Hema itu ... pekerja keras, tak kritis tapi bisa puitis, pemikir dan pintar dalam menyembunyikan emosinya. Hema itu hebat, anak baik yang kuat.

—-

Kembali dimana Hema menunggu sang teteh pulang. Rencana awal Hema hari ini ingin mengakui jika diantak menyukai perempuan, ia yakin jika bercerita pada Teh Resha adalah pilihan yang tepat.

Karena ... teh Resha satu-satunya orang yang paham dengan keadaannya, dan tak pernah memaksa Hema untuk bercerita, Hema merasa nyaman dengan itu.

Tok... tok... tok...

Pintu diketuk terlihat dari balik jendela terdapat seorang perempuan lebih tua 4 tahun darinya.

Hema bergegas membuka pintu, dan ya tepat dihadapannya adalah tetehnya.

Tangan Hema langsung mengarah ke kresek yang dibawa teh Resha.

“Orang mah kalo teteh nya pulang tuh salam atau peluk ini malah kabur bawa makanan” sindir teh Resha.

“Ya maaf lagi kelaperan” Hema sedikit berteriak karena setelah mengambil kresek bawaan teh Resha ia langsung pergi ke dapur mengambil piring.

Keduanya kini duduk diruang televisi. Hema duduk dilantai begitu pula dengan sang teteh.

Hema membuka belanjaan tetehnya dan mengeluarkan makanan tersebut dari plastik dan langsung memakan makanan yang dibawa sang teteh begitu lahap, yang membawa makanan malahan hanya tertawa kecil karena melihat tingkah adiknya itu.

Tatapan teh resha sendu, matanya seperti menahan agar air mata tak turun membasahi pipinya. Tangannya itu mengelus surai cokelat sang adik.

Hema langsung memberhentikan kegiatan makannya, dengan mulut yang penuh makanan ia menatap ke arah tetehnya.

“Engga kerasa dek kamu udah gede ya? Perasaan baru kemarin lulus SMP minta diajarin motor, pas udah bisa kamu pamer keteteh ngajak jalan teteh keliling sukajadi”

“Teh ...” suara Hema kecil hampir tak terdengar.

“Gimana jadi dewasa?” Tanya teh Resha.

“Gak enak teh, nyesel aku dulu pengen cepet dewasa, ternyata jadi dewasa itu rumit, seandainya waktu gak berjalan aku cuma pengen jadi anak sd yang masih lugu yang gak pernah peduli sama omongan orang yang kerjaannya cuma ngejar layangan”

Teh Resha hanya tersenyum mendengar celotehan adik kecilnya.

“Semua orang mau nya gitu, tapi kan engga mungkin. Satu-satunya cara ya hadapin apa yang terjadi, kalo kamu merasa gak sanggup buat jalanin hari kamu ya gpp, istirahat dulu ga usah dipaksain, kalo kamu mau berbagi pikiran mu coba cerita ke teteh” tangan Resha menarik Hema kepelukan hangatnya.

“Teh ... kalo semisal adek teteh yang teteh anggap jagoan dan sempurna itu ternyata ngecewain teteh gimana?”

“Gak mungkin ada orang yang sempurna Hema. Kalo semisal kamu ngecewain teteh ya enggak apa? Mungkin itu fase kamu lagi mendewasakan diri tapi dengan cara yang salah? Kalo kamu ngerasa ngecewain orang yang kamu sayang coba mulai perbaiki diri kamu”

Hema membalas pelukannya dan meneteskan air matanya di pundak sang kakak sulungnya itu.

Resha yang merasakan ada yang basah di pundaknya itu hanya membiarkannya, ia hanya ingin adiknya merasa nyaman dengan cara mengeluarkan emosi yang tak pernah ia tunjukkan.

Hema langsung menjauhkan kepalanya dan mengusap kasar air matanya.

“Kenapa dek?”

“Teh ... setelah aku cerita ini semoga teteh gak mencoba menghakimi aku ya? Aku cuma pengen diterima dan merasa aman”

Resha tak bergeming ia berusaha mendengarkan perkataan yang dilontarkan Hema.

“Teh ... adek kamu gak normal, adek teteh yang teteh anggap jagoan ini cuma pengecut, Hema cuma bisa ngecewain teteh” Hema menundukan kepalanya tak berani menatap sang kakak.

“Hema ... gak suka perempuan, Hema gak normal. Hema gak tau diri ya? Hema minta diterima padahal Hema sendiri gak pantes untuk siapa-siapa”

Tetehnya berusaha diam tak ingin mencemooh adiknya, ia berusaha menepati janji menepati kemauan Hema.

Hema tak berani menatap sang kakak, ia terlalu takut jika Resha menamparnya.

Tapi yang dipikirkan Hema nyatanya tidak terjadi. Tetehnya malah menangkup pipi Hema dan menyuruhnya menatap mata dia.

“Hema, cinta itu gak memandang gender, kamu berhak buat cinta sama siapa pun, kamu berhak sayang sama laki-laki atau perempuan. Jangan merasa gak normal, kamu tetep manusia yang bernafas yang makan nasi kan? Kamu tetep manusia yang berhak disayangi—

—teteh gak maksa kamu harus suka perempuan atau gimana, teteh gak dukung kamu tapi teteh gak marah sama kamu, kamu udah besar jadi kamu tau mana yang baik atau engga buat kamu sendiri” Resha menyatukan tangan Hema dan menggenggam tangan adiknya.

“Jangan takut gak diterima sama dunia, kamu berhak bahagia dengan cara kamu dek”

Hema menangis lagi untuk kedua kalinya dan memeluk sang kakak perempuan satu-satunya.

“Makasih teh, makasih udah bersikap netral sama Hema”

Hari keduanya pun kini mereka habiskan dengan obrolan ringan yang mereka ucapkan.

— ditulis pukul 17:25 @keripikpotato