Keripikpotatoo

Gimana jadi dewasa?

Terlihat jam menunjukan pukul 11:05 WIB. Matahari pun semakin naik, Hema kini bersantai di ruang tamu sembari mengecek hp nya siapa tau ada pesan masuk dari tetehnya itu.

Ia menaruh hp nya di meja depannya, pikirannya entah kemana melayang memikirkan yang belum tentu terjadi.

Hema lelaki kelahiran Juni ini bukan seseorang yang bisa dipanggil social butterfly, temannya tak banyak bahkan bisa dihitung jari. Ia tak terlalu suka nongkrong di cafe hits Bandung atau motoran keliling kota, rasanya itu bukan Hema banget.

Dia itu lelaki pemikir dan selalu berkecil hati, terlihat dari masa SD hingga SMA nya ia merasa iri dengan temannya, baik dalam bidang akademi mau pun bakat.

Ia selalu berpikir ia tak berguna, dan menyusahkan, ia juga merasa di dalam dirinya tak ada yang spesial, padahal dia itu beda dari pemuda seumurannya.

Hema itu ... pekerja keras, tak kritis tapi bisa puitis, pemikir dan pintar dalam menyembunyikan emosinya. Hema itu hebat, anak baik yang kuat.

Kembali dimana Hema menunggu sang teteh pulang. Rencana awal Hema hari ini ingin mengakui jika diantak menyukai perempuan, ia yakin jika bercerita pada Teh Resha adalah pilihan yang tepat.

Karena ... teh Resha satu-satunya orang yang paham dengan keadaannya, dan tak pernah memaksa Hema untuk bercerita, Hema merasa nyaman dengan itu.

Tok... tok... tok...

Pintu diketuk terlihat dari balik jendela terdapat seorang perempuan lebih tua 4 tahun darinya.

Hema bergegas membuka pintu, dan ya tepat dihadapannya adalah tetehnya.

Tangan Hema langsung mengarah ke kresek yang dibawa teh Resha.

“Orang mah kalo teteh nya pulang tuh salam atau peluk ini malah kabur bawa makanan” sindir teh Resha.

“Ya maaf lagi kelaperan” Hema sedikit berteriak karena setelah mengambil kresek bawaan teh Resha ia langsung pergi ke dapur mengambil piring.

Keduanya kini duduk diruang televisi. Hema duduk dilantai begitu pula dengan sang teteh.

Hema membuka belanjaan tetehnya dan mengeluarkan makanan tersebut dari plastik dan langsung memakan makanan yang dibawa sang teteh begitu lahap, yang membawa makanan malahan hanya tertawa kecil karena melihat tingkah adiknya itu.

Tatapan teh resha sendu, matanya seperti menahan agar air mata tak turun membasahi pipinya. Tangannya itu mengelus surai cokelat sang adik.

Hema langsung memberhentikan kegiatan makannya, dengan mulut yang penuh makanan ia menatap ke arah tetehnya.

“Engga kerasa dek kamu udah gede ya? Perasaan baru kemarin lulus SMP minta diajarin motor, pas udah bisa kamu pamer keteteh ngajak jalan teteh keliling sukajadi”

“Teh ...” suara Hema kecil hampir tak terdengar.

“Gimana jadi dewasa?” Tanya teh Resha.

“Gak enak teh, nyesel aku dulu pengen cepet dewasa, ternyata jadi dewasa itu rumit, seandainya waktu gak berjalan aku cuma pengen jadi anak sd yang masih lugu yang gak pernah peduli sama omongan orang yang kerjaannya cuma ngejar layangan”

Teh Resha hanya tersenyum mendengar celotehan adik kecilnya.

“Semua orang mau nya gitu, tapi kan engga mungkin. Satu-satunya cara ya hadapin apa yang terjadi, kalo kamu merasa gak sanggup buat jalanin hari kamu ya gpp, istirahat dulu ga usah dipaksain, kalo kamu mau berbagi pikiran mu coba cerita ke teteh” tangan Resha menarik Hema kepelukan hangatnya.

“Teh ... kalo semisal adek teteh yang teteh anggap jagoan dan sempurna itu ternyata ngecewain teteh gimana?”

“Gak mungkin ada orang yang sempurna Hema. Kalo semisal kamu ngecewain teteh ya enggak apa? Mungkin itu fase kamu lagi mendewasakan diri tapi dengan cara yang salah? Kalo kamu ngerasa ngecewain orang yang kamu sayang coba mulai perbaiki diri kamu”

Hema membalas pelukannya dan meneteskan air matanya di pundak sang kakak sulungnya itu.

Resha yang merasakan ada yang basah di pundaknya itu hanya membiarkannya, ia hanya ingin adiknya merasa nyaman dengan cara mengeluarkan emosi yang tak pernah ia tunjukkan.

Hema langsung menjauhkan kepalanya dan mengusap kasar air matanya.

“Kenapa dek?”

“Teh ... setelah aku cerita ini semoga teteh gak mencoba menghakimi aku ya? Aku cuma pengen diterima dan merasa aman”

Resha tak bergeming ia berusaha mendengarkan perkataan yang dilontarkan Hema.

“Teh ... adek kamu gak normal, adek teteh yang teteh anggap jagoan ini cuma pengecut, Hema cuma bisa ngecewain teteh” Hema menundukan kepalanya tak berani menatap sang kakak.

“Hema ... gak suka perempuan, Hema gak normal. Hema gak tau diri ya? Hema minta diterima padahal Hema sendiri gak pantes untuk siapa-siapa”

Tetehnya berusaha diam tak ingin mencemooh adiknya, ia berusaha menepati janji menepati kemauan Hema.

Hema tak berani menatap sang kakak, ia terlalu takut jika Resha menamparnya.

Tapi yang dipikirkan Hema nyatanya tidak terjadi. Tetehnya malah menangkup pipi Hema dan menyuruhnya menatap mata dia.

“Hema, cinta itu gak memandang gender, kamu berhak buat cinta sama siapa pun, kamu berhak sayang sama laki-laki atau perempuan. Jangan merasa gak normal, kamu tetep manusia yang bernafas yang makan nasi kan? Kamu tetep manusia yang berhak disayangi—

—teteh gak maksa kamu harus suka perempuan atau gimana, teteh gak dukung kamu tapi teteh gak marah sama kamu, kamu udah besar jadi kamu tau mana yang baik atau engga buat kamu sendiri” Resha menyatukan tangan Hema dan menggenggam tangan adiknya.

“Jangan takut gak diterima sama dunia, kamu berhak bahagia dengan cara kamu dek”

Hema menangis lagi untuk kedua kalinya dan memeluk sang kakak perempuan satu-satunya.

“Makasih teh, makasih udah bersikap netral sama Hema”

Hari keduanya pun kini mereka habiskan dengan obrolan ringan yang mereka ucapkan.

— ditulis pukul 17:25 @keripikpotato

Gimana jadi dewasa? Terlihat jam menunjukan pukul 11:05 WIB. Matahari pun semakin naik, Hema kini bersantai di ruang tamu sembari mengecek hp nya siapa tau ada pesan masuk dari tetehnya itu.

Ia menaruh hp nya di meja depannya, pikirannya entah kemana melayang memikirkan yang belum tentu terjadi.

Hema lelaki kelahiran Juni ini bukan seseorang yang bisa dipanggil social butterfly, temannya tak banyak bahkan bisa dihitung jari. Ia tak terlalu suka nongkrong di cafe hits Bandung atau motoran keliling kota, rasanya itu bukan Hema banget.

Dia itu lelaki pemikir dan selalu berkecil hati, terlihat dari masa SD hingga SMA nya ia merasa iri dengan temannya, baik dalam bidang akademi mau pun bakat.

Ia selalu berpikir ia tak berguna, dan menyusahkan, ia juga merasa di dalam dirinya tak ada yang spesial, padahal dia itu beda dari pemuda seumurannya.

Hema itu ... pekerja keras, tak kritis tapi bisa puitis, pemikir dan pintar dalam menyembunyikan emosinya. Hema itu hebat, anak baik yang kuat.

Kembali dimana Hema menunggu sang teteh pulang. Rencana awal Hema hari ini ingin mengakui jika diantak menyukai perempuan, ia yakin jika bercerita pada Teh Resha adalah pilihan yang tepat.

Karena ... teh Resha satu-satunya orang yang paham dengan keadaannya, dan tak pernah memaksa Hema untuk bercerita, Hema merasa nyaman dengan itu.

Tok... tok... tok...

Pintu diketuk terlihat dari balik jendela terdapat seorang perempuan lebih tua 4 tahun darinya.

Hema bergegas membuka pintu, dan ya tepat dihadapannya adalah tetehnya.

Tangan Hema langsung mengarah ke kresek yang dibawa teh Resha.

“Orang mah kalo teteh nya pulang tuh salam atau peluk ini malah kabur bawa makanan” sindir teh Resha.

“Ya maaf lagi kelaperan” Hema sedikit berteriak karena setelah mengambil kresek bawaan teh Resha ia langsung pergi ke dapur mengambil piring.

Keduanya kini duduk diruang televisi. Hema duduk dilantai begitu pula dengan sang teteh.

Hema membuka belanjaan tetehnya dan mengeluarkan makanan tersebut dari plastik dan langsung memakan makanan yang dibawa sang teteh begitu lahap, yang membawa makanan malahan hanya tertawa kecil karena melihat tingkah adiknya itu.

Tatapan teh resha sendu, matanya seperti menahan agar air mata tak turun membasahi pipinya. Tangannya itu mengelus surai cokelat sang adik.

Hema langsung memberhentikan kegiatan makannya, dengan mulut yang penuh makanan ia menatap ke arah tetehnya.

“Engga kerasa dek kamu udah gede ya? Perasaan baru kemarin lulus SMP minta diajarin motor, pas udah bisa kamu pamer keteteh ngajak jalan teteh keliling sukajadi”

“Teh ...” suara Hema kecil hampir tak terdengar.

“Gimana jadi dewasa?” Tanya teh Resha.

“Gak enak teh, nyesel aku dulu pengen cepet dewasa, ternyata jadi dewasa itu rumit, seandainya waktu gak berjalan aku cuma pengen jadi anak sd yang masih lugu yang gak pernah peduli sama omongan orang yang kerjaannya cuma ngejar layangan”

Teh Resha hanya tersenyum mendengar celotehan adik kecilnya.

“Semua orang mau nya gitu, tapi kan engga mungkin. Satu-satunya cara ya hadapin apa yang terjadi, kalo kamu merasa gak sanggup buat jalanin hari kamu ya gpp, istirahat dulu ga usah dipaksain, kalo kamu mau berbagi pikiran mu coba cerita ke teteh” tangan Resha menarik Hema kepelukan hangatnya.

“Teh ... kalo semisal adek teteh yang teteh anggap jagoan dan sempurna itu ternyata ngecewain teteh gimana?”

“Gak mungkin ada orang yang sempurna Hema. Kalo semisal kamu ngecewain teteh ya enggak apa? Mungkin itu fase kamu lagi mendewasakan diri tapi dengan cara yang salah? Kalo kamu ngerasa ngecewain orang yang kamu sayang coba mulai perbaiki diri kamu”

Hema membalas pelukannya dan meneteskan air matanya di pundak sang kakak sulungnya itu.

Resha yang merasakan ada yang basah di pundaknya itu hanya membiarkannya, ia hanya ingin adiknya merasa nyaman dengan cara mengeluarkan emosi yang tak pernah ia tunjukkan.

Hema langsung menjauhkan kepalanya dan mengusap kasar air matanya.

“Kenapa dek?”

“Teh ... setelah aku cerita ini semoga teteh gak mencoba menghakimi aku ya? Aku cuma pengen diterima dan merasa aman”

Resha tak bergeming ia berusaha mendengarkan perkataan yang dilontarkan Hema.

“Teh ... adek kamu gak normal, adek teteh yang teteh anggap jagoan ini cuma pengecut, Hema cuma bisa ngecewain teteh” Hema menundukan kepalanya tak berani menatap sang kakak.

“Hema ... gak suka perempuan, Hema gak normal. Hema gak tau diri ya? Hema minta diterima padahal Hema sendiri gak pantes untuk siapa-siapa”

Tetehnya berusaha diam tak ingin mencemooh adiknya, ia berusaha menepati janji menepati kemauan Hema.

Hema tak berani menatap sang kakak, ia terlalu takut jika Resha menamparnya.

Tapi yang dipikirkan Hema nyatanya tidak terjadi. Tetehnya malah menangkup pipi Hema dan menyuruhnya menatap mata dia.

“Hema, cinta itu gak memandang gender, kamu berhak buat cinta sama siapa pun, kamu berhak sayang sama laki-laki atau perempuan. Jangan merasa gak normal, kamu tetep manusia yang bernafas yang makan nasi kan? Kamu tetep manusia yang berhak disayangi—

—teteh gak maksa kamu harus suka perempuan atau gimana, teteh gak dukung kamu tapi teteh gak marah sama kamu, kamu udah besar jadi kamu tau mana yang baik atau engga buat kamu sendiri” Resha menyatukan tangan Hema dan menggenggam tangan adiknya.

“Jangan takut gak diterima sama dunia, kamu berhak bahagia dengan cara kamu dek”

Hema menangis lagi untuk kedua kalinya dan memeluk sang kakak perempuan satu-satunya.

“Makasih teh, makasih udah bersikap netral sama Hema”

Hari keduanya pun kini mereka habiskan dengan obrolan ringan yang mereka ucapkan.

— ditulis pukul 17:25 @keripikpotato

Teteh pulang.

Terlihat jam menunjukan pukul 11:05 WIB. Matahari pun semakin naik, Hema kini bersantai di ruang tamu sembari mengecek hp nya siapa tau ada pesan masuk dari tetehnya itu.

Hema menaruh hp nya di meja depan, pikirannya tiba-tiba melayang tak tahu kemana.

Hema lelaki kelahiran Juni ini bukan seseorang yang bisa dipanggil social butterfly, temannya tak banyak bahkan bisa dihitung jari. Ia tak terlalu suka nongkrong di cafe hits Bandung atau motoran keliling kota, rasanya itu bukan Hema banget.

Dia itu lelaki pemikir dan selalu berkecil hati, terlihat dari masa SD hingga SMA nya ia merasa iri dengan temannya, baik dalam bidang akademi mau pun bakat.

Ia selalu berpikir ia tak berguna, dan menyusahkan, ia juga merasa di dalam dirinya tak ada yang spesial, padahal dia itu beda dari pemuda seumurannya.

Hema itu ... pekerja keras, tak kritis tapi bisa puitis, pemikir dan pintar dalam menyembunyikan emosinya. Hema itu hebat, anak baik yang kuat.

Kembali dimana Hema menunggu sang teteh pulang. Rencana awal Hema hari ini ingin mengakui jika diantak menyukai perempuan, ia yakin jika bercerita pada Teh Resha adalah pilihan yang tepat.

Karena ... teh Resha satu-satunya orang yang paham dengan keadaannya, dan tak pernah memaksa Hema untuk bercerita, Hema merasa nyaman dengan itu.

Tok... tok... tok...

Pintu diketuk terlihat dari balik jendela terdapat seorang perempuan lebih tua 4 tahun darinya.

Hema bergegas membuka pintu, dan ya tepat dihadapannya adalah tetehnya.

Tangan Hema langsung mengarah ke kresek yang dibawa teh Resha.

“Orang mah kalo teteh nya pulang tuh salam atau peluk ini malah kabur bawa makanan” sindir teh Resha.

“Ya maaf lagi kelaperan” Hema sedikit berteriak karena setelah mengambil kresek bawaan teh Resha ia langsung pergi ke dapur mengambil piring.

Keduanya kini duduk diruang televisi. Hema duduk dilantai begitu pula dengan sang teteh.

Hema membuka belanjaan tetehnya dan mengeluarkan makanan tersebut dari plastik dan langsung memakan makanan yang dibawa sang teteh begitu lahap, yang membawa makanan malahan hanya tertawa kecil karena melihat tingkah adiknya itu.

Tatapan teh resha sendu, matanya seperti menahan agar air mata tak turun membasahi pipinya. Tangannya itu mengelus surai cokelat sang adik.

Hema langsung memberhentikan kegiatan makannya, dengan mulut yang penuh makanan ia menatap ke arah tetehnya.

“Engga kerasa dek kamu udah gede ya? Perasaan baru kemarin lulus SMP minta diajarin motor, pas udah bisa kamu pamer keteteh ngajak jalan teteh keliling sukajadi”

“Teh ...” suara Hema kecil hampir tak terdengar.

“Gimana jadi dewasa?” Tanya teh Resha.

“Gak enak teh, nyesel aku dulu pengen cepet dewasa, ternyata jadi dewasa itu rumit, seandainya waktu gak berjalan aku cuma pengen jadi anak sd yang masih lugu yang gak pernah peduli sama omongan orang yang kerjaannya cuma ngejar layangan”

Teh Resha hanya tersenyum mendengar celotehan adik kecilnya.

“Semua orang mau nya gitu, tapi kan engga mungkin. Satu-satunya cara ya hadapin apa yang terjadi, kalo kamu merasa gak sanggup buat jalanin hari kamu ya gpp, istirahat dulu ga usah dipaksain, kalo kamu mau berbagi pikiran mu coba cerita ke teteh” tangan Resha menarik Hema kepelukan hangatnya.

“Teh ... kalo semisal adek teteh yang teteh anggap jagoan dan sempurna itu ternyata ngecewain teteh gimana?”

“Gak mungkin ada orang yang sempurna Hema. Kalo semisal kamu ngecewain teteh ya enggak apa? Mungkin itu fase kamu lagi mendewasakan diri tapi dengan cara yang salah? Kalo kamu ngerasa ngecewain orang yang kamu sayang coba mulai perbaiki diri kamu”

Hema membalas pelukannya dan meneteskan air matanya di pundak sang kakak sulungnya itu.

Resha yang merasakan ada yang basah di pundaknya itu hanya membiarkannya, ia hanya ingin adiknya merasa nyaman dengan cara mengeluarkan emosi yang tak pernah ia tunjukkan.

Hema langsung menjauhkan kepalanya dan mengusap kasar air matanya.

“Kenapa dek?”

“Teh ... setelah aku cerita ini semoga teteh gak mencoba menghakimi aku ya? Aku cuma pengen diterima dan merasa aman”

Resha tak bergeming ia berusaha mendengarkan perkataan yang dilontarkan Hema.

“Teh ... adek kamu gak normal, adek teteh yang teteh anggap jagoan ini cuma pengecut, Hema cuma bisa ngecewain teteh” Hema menundukan kepalanya tak berani menatap sang kakak.

“Hema ... gak suka perempuan, Hema gak normal. Hema gak tau diri ya? Hema minta diterima padahal Hema sendiri gak pantes untuk siapa-siapa”

Tetehnya berusaha diam tak ingin mencemooh adiknya, ia berusaha menepati janji menepati kemauan Hema.

Hema tak berani menatap sang kakak, ia terlalu takut jika Resha menamparnya.

Tapi yang dipikirkan Hema nyatanya tidak terjadi. Tetehnya malah menangkup pipi Hema dan menyuruhnya menatap mata dia.

“Hema, cinta itu gak memandang gender, kamu berhak buat cinta sama siapa pun, kamu berhak sayang sama laki-laki atau perempuan. Jangan merasa gak normal, kamu tetep manusia yang bernafas yang makan nasi kan? Kamu tetep manusia yang berhak disayangi—

—teteh gak maksa kamu harus suka perempuan atau gimana, teteh gak dukung kamu tapi teteh gak marah sama kamu, kamu udah besar jadi kamu tau mana yang baik atau engga buat kamu sendiri” Resha menyatukan tangan Hema dan menggenggam tangan adiknya.

“Jangan takut gak diterima sama dunia, kamu berhak bahagia dengan cara kamu dek”

Hema menangis lagi untuk kedua kalinya dan memeluk sang kakak perempuan satu-satunya.

“Makasih teh, makasih udah bersikap netral sama Hema”

Hari keduanya pun kini mereka habiskan dengan obrolan ringan yang mereka ucapkan.

— ditulis pukul 17:25 @keripikpotato

Teteh pulang.

Terlihat jam menunjukan pukul 11:05 WIB. Matahari pun semakin naik, Hema kini bersantai di ruang tamu sembari mengecek hp nya siapa tau ada pesan masuk dari tetehnya itu.

Hema lelaki kelahiran Juni ini bukan seseorang yang bisa dipanggil social butterfly, temannya tak banyak bahkan bisa dihitung jari. Ia tak terlalu suka nongkrong di cafe hits Bandung atau motoran keliling kota, rasanya itu bukan Hema banget.

Dia itu lelaki pemikir dan selalu berkecil hati, terlihat dari masa SD hingga SMA nya ia merasa iri dengan temannya, baik dalam bidang akademi mau pun bakat.

Ia selalu berpikir ia tak berguna, dan menyusahkan, ia juga merasa di dalam dirinya tak ada yang spesial, padahal dia itu beda dari pemuda seumurannya.

Hema itu ... pekerja keras, tak kritis tapi bisa puitis, pemikir dan pintar dalam menyembunyikan emosinya. Hema itu hebat, anak baik yang kuat.

Kembali dimana Hema menunggu sang teteh pulang. Rencana awal Hema hari ini ingin mengakui jika diantak menyukai perempuan, ia yakin jika bercerita pada Teh Resha adalah pilihan yang tepat.

Karena ... teh Resha satu-satunya orang yang paham dengan keadaannya, dan tak pernah memaksa Hema untuk bercerita, Hema merasa nyaman dengan itu.

Tok... tok... tok...

Pintu diketuk terlihat dari balik jendela terdapat seorang perempuan lebih tua 4 tahun darinya.

Hema bergegas membuka pintu, dan ya tepat dihadapannya adalah tetehnya.

Tangan Hema langsung mengarah ke kresek yang dibawa teh Resha.

“Orang mah kalo teteh nya pulang tuh salam atau peluk ini malah kabur bawa makanan” sindir teh Resha.

“Ya maaf lagi kelaperan” Hema sedikit berteriak karena setelah mengambil kresek bawaan teh Resha ia langsung pergi ke dapur mengambil piring.

Keduanya kini duduk diruang televisi. Hema duduk dilantai begitu pula dengan sang teteh.

Hema membuka belanjaan tetehnya dan mengeluarkan makanan tersebut dari plastik dan langsung memakan makanan yang dibawa sang teteh begitu lahap, yang membawa makanan malahan hanya tertawa kecil karena melihat tingkah adiknya itu.

Tatapan teh resha sendu, matanya seperti menahan agar air mata tak turun membasahi pipinya. Tangannya itu mengelus surai cokelat sang adik.

Hema langsung memberhentikan kegiatan makannya, dengan mulut yang penuh makanan ia menatap ke arah tetehnya.

“Engga kerasa dek kamu udah gede ya? Perasaan baru kemarin lulus SMP minta diajarin motor, pas udah bisa kamu pamer keteteh ngajak jalan teteh keliling sukajadi”

“Teh ...” suara Hema kecil hampir tak terdengar.

“Gimana jadi dewasa?” Tanya teh Resha.

“Gak enak teh, nyesel aku dulu pengen cepet dewasa, ternyata jadi dewasa itu rumit, seandainya waktu gak berjalan aku cuma pengen jadi anak sd yang masih lugu yang gak pernah peduli sama omongan orang yang kerjaannya cuma ngejar layangan”

Teh Resha hanya tersenyum mendengar celotehan adik kecilnya.

“Semua orang mau nya gitu, tapi kan engga mungkin. Satu-satunya cara ya hadapin apa yang terjadi, kalo kamu merasa gak sanggup buat jalanin hari kamu ya gpp, istirahat dulu ga usah dipaksain, kalo kamu mau berbagi pikiran mu coba cerita ke teteh” tangan Resha menarik Hema kepelukan hangatnya.

“Teh ... kalo semisal adek teteh yang teteh anggap jagoan dan sempurna itu ternyata ngecewain teteh gimana?”

“Gak mungkin ada orang yang sempurna Hema. Kalo semisal kamu ngecewain teteh ya enggak apa? Mungkin itu fase kamu lagi mendewasakan diri tapi dengan cara yang salah? Kalo kamu ngerasa ngecewain orang yang kamu sayang coba mulai perbaiki diri kamu”

Hema membalas pelukannya dan meneteskan air matanya di pundak sang kakak sulungnya itu.

Resha yang merasakan ada yang basah di pundaknya itu hanya membiarkannya, ia hanya ingin adiknya merasa nyaman dengan cara mengeluarkan emosi yang tak pernah ia tunjukkan.

Hema langsung menjauhkan kepalanya dan mengusap kasar air matanya.

“Kenapa dek?”

“Teh ... setelah aku cerita ini semoga teteh gak mencoba menghakimi aku ya? Aku cuma pengen diterima dan merasa aman”

Resha tak bergeming ia berusaha mendengarkan perkataan yang dilontarkan Hema.

“Teh ... adek kamu gak normal, adek teteh yang teteh anggap jagoan ini cuma pengecut, Hema cuma bisa ngecewain teteh” Hema menundukan kepalanya tak berani menatap sang kakak.

“Hema ... gak suka perempuan, Hema gak normal. Hema gak tau diri ya? Hema minta diterima padahal Hema sendiri gak pantes untuk siapa-siapa”

Tetehnya berusaha diam tak ingin mencemooh adiknya, ia berusaha menepati janji menepati kemauan Hema.

Hema tak berani menatap sang kakak, ia terlalu takut jika Resha menamparnya.

Tapi yang dipikirkan Hema nyatanya tidak terjadi. Tetehnya malah menangkup pipi Hema dan menyuruhnya menatap mata dia.

“Hema, cinta itu gak memandang gender, kamu berhak buat cinta sama siapa pun, kamu berhak sayang sama laki-laki atau perempuan. Jangan merasa gak normal, kamu tetep manusia yang bernafas yang makan nasi kan? Kamu tetep manusia yang berhak disayangi—

—teteh gak maksa kamu harus suka perempuan atau gimana, teteh gak dukung kamu tapi teteh gak marah sama kamu, kamu udah besar jadi kamu tau mana yang baik atau engga buat kamu sendiri” Resha menyatukan tangan Hema dan menggenggam tangan adiknya.

“Jangan takut gak diterima sama dunia, kamu berhak bahagia dengan cara kamu dek”

Hema menangis lagi untuk kedua kalinya dan memeluk sang kakak perempuan satu-satunya.

“Makasih teh, makasih udah bersikap netral sama Hema”

Hari keduanya pun kini mereka habiskan dengan obrolan ringan yang mereka ucapkan.

— ditulis pukul 17:25 @keripikpotato

Pulang.

Hema masih berada dikamar milik genta. Ia masih melamun dan membiarkan pikirannya melayang tinggi. Namun lamunannya terhenti karena Jenan yang masuk ke kamar abangnya.

“Ma udah baikan?” Tanya Jenan basa-basi

“Udah jen”

“Syukur kalo gitu, btw ma sorry ya gue gak bisa anter lo balik, soalnya ada keperluan. Tapi nanti bang Genta anter lo kok” ujar Jenan panjang lebar.

“Iya gpp makasih”

Percakapan keduanya pun ditutup dengan Jenan yang meninggalkan Hema seorang diri.

Tak banyak yang Hema lakukan ia hanya duduk menghadap jendela besar dikamar kilik Genta yang menunjukan pemandangan pohon hijau rimbun. Tapi ... Hema merasa bosan dan memutuskan untuk keluar dari kamar, dan menuju ke lantai bawah.

Terlihat ada seorang lelaki yang sibuk bergulat dengan laptopnya, tak terlalu fokus tapi pandangannya hanya tertuju pada layar didepannya.

“Kak” Hema mencoba memberanikan diri memanggil Genta.

“Eh Hema, kenapa? Ada yang perlu gue bantu?”

“Engga kak, gue cuma bosen dikamar” jawab Hema sejujurnya.

“Btw boleh anterin gue pulang?”

“Boleh, bentar gue beresin laptop dulu” Genta pun bergegas membereskan laptopnya dan langsung bangkit dari duduknya.

Kaki keduanya berjalan ke arah parkiran, Genta langsung masuk ke mobil dan disusul oleh Hema.

“Mamah lo gak ada?” Tanya Hema yang berniat berpamitan.

“Gak ada, pergi sama Jenan” Genta membalas singkat dan membuka pintu mobil lalu masuk ke mobilnya.

Hema pun menyusul Genta masuk.

Mobilnya kini sudah keluar dari pekarangan rumah Genta, dan mengarah ke jalan Siliwangi.

Jalanan ini sejuk terlihat beberapa pejalan kaki yang sedang berjalan ditrotiar atau pun sekedar duduk di bangku.

Tak ada percakapan apapun di mobil, tapi Genta berusaha menyairkan suasana.

“Ekhem” dehem Genta, Hema yang mendengar pun langsung melirik yang disebelahnya.

“Lo temen Jenan ya? Kenal dia udah berapa lama?” Genta menanyakan banyak hal.

“Mau jalan 2 taun, lo abang Jenan? Gue baru liat lo Jenan pun gak pernah cerita”

“Iya gue abangnya, gue jarang sih pulang ke Bandung soalnya bantuin ngurus perusahaan bokap di Jakarta, tapi gue jenuh di Jakarta jadinya minta balik kesini”

“Ohhh” Hema menutup percakapannya.

“Lo semalem kenapa ada di tengah jalan layang?” Genta cukup takut untuk menanyakan hal ini tapi rasa penasarannya begitu tinggi.

Hema hanya diam tangannya bergerak gelisah, Genta melihat gerak-gerik Hema dan langsung peka kepadanya.

“Eh maaf kalo lo gak nyaman, gue gak maksud” maaf Genta.

Mobil masih melaju menelusuri jalan sukajadi. Jalanan begitu padat karena hari ini Minggu.

“Ke arah mana ini?” Genta menanyakan jalan.

“Belok kiri, nanti ada portal, rumah gue yang deket portal”

“Ah okay”

Mobil terpakir tepat didepan rumah Hema.

“Makasih udah nganterin maaf ngerepotin, bilangin ke mamah sama jenan makasih juga ya” tangannya sudah bergerak membuka pintu mobil.

“Eh tunggu” Genta menahan tangan yang lebih muda.

“Kenapa?”

“Boleh minta nomor lo?” Tanya Genta ragu.

“Oh boleh”

Setelah Hema menyebutkan nomornya ia pun bergegas keluar mobil dan langsung masuk ke rumahnya.

— ditulis pada pukul 13:28 @keripikpotato

Hema masih berada dikamar milik genta. Ia masih melamun dan membiarkan pikirannya melayang tinggi. Namun lamunannya terhenti karena Jenan yang masuk ke kamar abangnya.

“Ma udah baikan?” Tanya Jenan basa-basi

“Udah jen”

“Syukur kalo gitu, btw ma sorry ya gue gak bisa anter lo balik, soalnya ada keperluan. Tapi nanti bang Genta anter lo kok” ujar Jenan panjang lebar.

“Iya gpp makasih”

Percakapan keduanya pun ditutup dengan Jenan yang meninggalkan Hema seorang diri.

Tak banyak yang Hema lakukan ia hanya duduk menghadap jendela besar dikamar kilik Genta yang menunjukan pemandangan pohon hijau rimbun. Tapi ... Hema merasa bosan dan memutuskan untuk keluar dari kamar, dan menuju ke lantai bawah.

Terlihat ada seorang lelaki yang sibuk bergulat dengan laptopnya, tak terlalu fokus tapi pandangannya hanya tertuju pada layar didepannya.

“Kak” Hema mencoba memberanikan diri memanggil Genta.

“Eh Hema, kenapa? Ada yang perlu gue bantu?”

“Engga kak, gue cuma bosen dikamar” jawab Hema sejujurnya.

“Btw boleh anterin gue pulang?”

“Boleh, bentar gue beresin laptop dulu” Genta pun bergegas membereskan laptopnya dan langsung bangkit dari duduknya.

Kaki keduanya berjalan ke arah parkiran, Genta langsung masuk ke mobil dan disusul oleh Hema.

“Mamah lo gak ada?” Tanya Hema yang berniat berpamitan.

“Gak ada, pergi sama Jenan” Genta membalas singkat dan membuka pintu mobil lalu masuk ke mobilnya.

Hema pun menyusul Genta masuk.

Mobilnya kini sudah keluar dari pekarangan rumah Genta, dan mengarah ke jalan Siliwangi.

Jalanan ini sejuk terlihat beberapa pejalan kaki yang sedang berjalan ditrotiar atau pun sekedar duduk di bangku.

Tak ada percakapan apapun di mobil, tapi Genta berusaha menyairkan suasana.

“Ekhem” dehem Genta, Hema yang mendengar pun langsung melirik yang disebelahnya.

“Lo temen Jenan ya? Kenal dia udah berapa lama?” Genta menanyakan banyak hal.

“Mau jalan 2 taun, lo abang Jenan? Gue baru liat lo Jenan pun gak pernah cerita”

“Iya gue abangnya, gue jarang sih pulang ke Bandung soalnya bantuin ngurus perusahaan bokap di Jakarta, tapi gue jenuh di Jakarta jadinya minta balik kesini”

“Ohhh” Hema menutup percakapannya.

“Lo semalem kenapa ada di tengah jalan layang?” Genta cukup takut untuk menanyakan hal ini tapi rasa penasarannya begitu tinggi.

Hema hanya diam tangannya bergerak gelisah, Genta melihat gerak-gerik Hema dan langsung peka kepadanya.

“Eh maaf kalo lo gak nyaman, gue gak maksud” maaf Genta.

Mobil masih melaju menelusuri jalan sukajadi. Jalanan begitu padat karena hari ini Minggu.

“Ke arah mana ini?” Genta menanyakan jalan.

“Belok kiri, nanti ada portal, rumah gue yang deket portal”

“Ah okay”

Mobil terpakir tepat didepan rumah Hema.

“Makasih udah nganterin maaf ngerepotin, bilangin ke mamah sama jenan makasih juga ya” tangannya sudah bergerak membuka pintu mobil.

“Eh tunggu” Genta menahan tangan yang lebih muda.

“Kenapa?”

“Boleh minta nomor lo?” Tanya Genta ragu.

“Oh boleh”

Setelah Hema menyebutkan nomornya ia pun bergegas keluar mobil dan langsung masuk ke rumahnya.

— ditulis pada pukul 13:28 @keripikpotato

#Photoshoot

Haechan kini sedang melihat hasil photoshootnya.

“Bagus Lee Haechan, skill kamu semakin meningkat setelah setahun kita kerja sama” ujar kepala produser yang bertanggung jawab di photoshoot dia kali ini.

“Makasih om” Haechan melemparkan senyumnya kepada Johnny produser sekaligus om-nya.

“Kalo gitu saya tinggal dulu ya?” Pamit Johnny

“Oh iya om”

Johnny pergi meninggalkan Haechan dan menepuk pundaknya.

Dari kejauhan terlihat ada seorang lelaki bertubuh tinggi menghampiri Haechan.

“Permisi, Lee Haechan?” Tanya si lelaki itu.

“Ah iya, siapa?”

“Kenalin saya doyoung personal assisten Mark Lee pemilik LeeFac Corp.”

“Halo kak Doyoung, apa ada keperluan?” Tanya Haechan ramah ke orang yang ternyata adalah personal assisten Mark.

“Saya disuruh sama Pak Mark, beliau mau ketemu sama kamu, kamu bisa langsung keruangannya”

“Okay kak”

“Mari saya antar” Doyoung menunjukan jalan ke ruangan mark yang berada di lantai 8 gedung.

Haechan mengikuti Doyoung dari belakang, hingga tiba lah mereka di depan ruangan Mark.

Tangan Doyoung bergerak mau mengetuk pintu di depannya, tapi Haechan menahannya “tunggu, gausah diketuk dulu saya mau nelepon seseorang”

“Ah kalau begitu baik, saya tinggal ya” Doyoung meninggalkan Haechan sendirian didepan ruangan Mark.

“Mark lee, nama yang ga asing kyknya gue pernah denger nama dia” Haechan bermonolog.

Namun pikirannya itu pecah seketika karena mendapat notifikasi pesan masuk.

Ia melihat notifikasi yang masuk, ternyata itu Luke, FWB-nya.

Haechan kini sedang melihat hasil photoshootnya.

“Bagus Lee Haechan, skill kamu semakin meningkat setelah setahun kita kerja sama” ujar kepala produser yang bertanggung jawab di photoshoot dia kali ini.

“Makasih om” Haechan melemparkan senyumnya kepada Johnny produser sekaligus om-nya.

“Kalo gitu saya tinggal dulu ya?” Pamit Johnny

“Oh iya om”

Johnny pergi meninggalkan Haechan dan menepuk pundaknya.

Dari kejauhan terlihat ada seorang lelaki bertubuh tinggi menghampiri Haechan.

“Permisi, Lee Haechan?” Tanya si lelaki itu.

“Ah iya, siapa?”

“Kenalin saya doyoung personal assisten Mark Lee pemilik LeeFac Corp.”

“Halo kak Doyoung, apa ada keperluan?” Tanya Haechan ramah ke orang yang ternyata adalah personal assisten Mark.

“Saya disuruh sama Pak Mark, beliau mau ketemu sama kamu, kamu bisa langsung keruangannya”

“Okay kak”

“Mari saya antar” Doyoung menunjukan jalan ke ruangan mark yang berada di lantai 8 gedung.

Haechan mengikuti Doyoung dari belakang, hingga tiba lah mereka di depan ruangan Mark.

Tangan Doyoung bergerak mau mengetuk pintu di depannya, tapi Haechan menahannya “tunggu, gausah diketuk dulu saya mau nelepon seseorang”

“Ah kalau begitu baik, saya tinggal ya” Doyoung meninggalkan Haechan sendirian didepan ruangan Mark.

“Mark lee, nama yang ga asing kyknya gue pernah denger nama dia” Haechan bermonolog.

Namun pikirannya itu pecah seketika karena mendapat notifikasi pesan masuk.

Ia melihat notifikasi yang masuk, ternyata itu Luke, FWB-nya.

Photoshoot

Haechan kini sedang melihat hasil photoshootnya.

“Bagus Lee Haechan, skill kamu semakin meningkat setelah setahun kita kerja sama” ujar kepala produser yang bertanggung jawab di photoshoot dia kali ini.

“Makasih om” Haechan melemparkan senyumnya kepada Johnny produser sekaligus om-nya.

“Kalo gitu saya tinggal dulu ya?” Pamit Johnny

“Oh iya om”

Johnny pergi meninggalkan Haechan dan menepuk pundaknya.

Dari kejauhan terlihat ada seorang lelaki bertubuh tinggi menghampiri Haechan.

“Permisi, Lee Haechan?” Tanya si lelaki itu.

“Ah iya, siapa?”

“Kenalin saya doyoung personal assisten Mark Lee pemilik LeeFac Corp.”

“Halo kak Doyoung, apa ada keperluan?” Tanya Haechan ramah ke orang yang ternyata adalah personal assisten Mark.

“Saya disuruh sama Pak Mark, beliau mau ketemu sama kamu, kamu bisa langsung keruangannya”

“Okay kak”

“Mari saya antar” Doyoung menunjukan jalan ke ruangan mark yang berada di lantai 8 gedung.

Haechan mengikuti Doyoung dari belakang, hingga tiba lah mereka di depan ruangan Mark.

Tangan Doyoung bergerak mau mengetuk pintu di depannya, tapi Haechan menahannya “tunggu, gausah diketuk dulu saya mau nelepon seseorang”

“Ah kalau begitu baik, saya tinggal ya” Doyoung meninggalkan Haechan sendirian didepan ruangan Mark.

“Mark lee, nama yang ga asing kyknya gue pernah denger nama dia” Haechan bermonolog.

Namun pikirannya itu pecah seketika karena mendapat notifikasi pesan masuk.

Ia melihat notifikasi yang masuk, ternyata itu Luke, FWB-nya.

Haechan kini sedang melihat hasil photoshootnya.

“Bagus Lee Haechan, skill kamu semakin meningkat setelah setahun kita kerja sama” ujar kepala produser yang bertanggung jawab di photoshoot dia kali ini.

“Makasih om” Haechan melemparkan senyumnya kepada Johnny produser sekaligus om-nya.

“Kalo gitu saya tinggal dulu ya?” Pamit Johnny

“Oh iya om”

Johnny pergi meninggalkan Haechan dan menepuk pundaknya.

Dari kejauhan terlihat ada seorang lelaki bertubuh tinggi menghampiri Haechan.

“Permisi, Lee Haechan?” Tanya si lelaki itu.

“Ah iya, siapa?”

“Kenalin saya doyoung personal assisten Mark Lee pemilik LeeFac Corp.”

“Halo kak Doyoung, apa ada keperluan?” Tanya Haechan ramah ke orang yang ternyata adalah personal assisten Mark.

“Saya disuruh sama Pak Mark, beliau mau ketemu sama kamu, kamu bisa langsung keruangannya”

“Okay kak”

“Mari saya antar” Doyoung menunjukan jalan ke ruangan mark yang berada di lantai 8 gedung.

Haechan mengikuti Doyoung dari belakang, hingga tiba lah mereka di depan ruangan Mark.

Tangan Doyoung bergerak mau mengetuk pintu di depannya, tapi Haechan menahannya “tunggu, gausah diketuk dulu saya mau nelepon seseorang”

“Ah kalau begitu baik, saya tinggal ya” Doyoung meninggalkan Haechan sendirian didepan ruangan Mark.

“Mark lee, nama yang ga asing kyknya gue pernah denger nama dia” Haechan bermonolog.

Namun pikirannya itu pecah seketika karena mendapat notifikasi pesan masuk.

Ia melihat notifikasi yang masuk, ternyata itu Luke, FWB-nya.