Keripikpotatoo

Glimpse


18, tanggal dimana keduanya mengikat hubungan sebagai sepasang kekasih, Mark meminta dan merayu Donghyuck untuk menjadi kekasihnya.

Tiga bulan berjalan keduanya menjalin hubungan, tapi tak seindah seperti yang orang lihat. Fakta yang nyatanya disembunyikan ialah, Donghyuck pemeran ketiga di hubungannya. Mark yang terkenal dengan sifat yang baik, dan paling paham dengan perasaan orang lain, nyata nya tidak begitu, nyatanya tak bisa dibuktikan oleh Donghyuck, nyatanya kebaikan dia hanyalah penutup segala sakit yang Mark rasa.

Luka yang Donghyuck dapat tak disertakan dengan obat penawar sakit, tidak juga Mark sembuhkan. Nyatanya Mark tak sebaik yang dulu Donghyuck kenal.


Pukul delapan malam, di rumah Mark. Keduanya merayakan hari jadi yang ke tiga bulan atas berlangsungnya hubungan mereka. Jauh dari kata romantis dan hangat. Keduanya lebih banyak diam dan menanyakan kegiatan sehari-hari dibanding dengan membagi segala kasih dan sayang.

Bosan yang dirasa, canggung yang menerpa, maka dari itu Mark memutuskan untuk mengajak Donghyuck menonton film kesukaan Mark dan “Dia” masa lalunya.

“Kamu suka film ini dek?”

“Suka, aku sering rewatch film ini, kakak suka?”

“Haha, iya aku dulu suka nonton sama dia” tak perlu lagi Donghyuck menerka, tebakannya sudah pasti valid, ukiran senyumnya seketika hilang bak goresan pensil yang dihapus.

Detik berlalu menjadi menit, menit berganti menjadi jam hingga tak disangka Mark sudah tertidur bersandar di bahu Donghyuck.

Donghyuck memandangi wajah Mark, tampan rupanya. “Ren kamu cantik” ucap Mark tak sadar.

“Ren kita bisa gak ya menua bareng?”

“Ren jangan pergi”

“I miss you...” kata terakhir yang Mark sampaikan begitu lirih, bukan hanya Mark yang sakit bukan hanya Mark yang menderita, tapi ada Donghyuck yang lebih menderita, yang hidupnya lebih kelabu dibanding Mark.

Mark, tidak membawa apa yang ia dambakan, Mark tidak mengembalikan apa yang telah ia beri, Mark hanya membawa langit abu-abu tanpa membawa sang penerang.

Mark sang pembawa gelap nya hari dan menumpang berteduh pada Donghyuck, tapi ia tak sadar ia meninggalkan jejak buruk pada tempat singgah itu.

Seharusnya Donghyuck sadar ia hanya tempat sandaran sementara, harusnya ia pergi dan lari dari hubungan ini, bukan kah seharusnya mereka menanam benih cinta baru dan memendam masa lalu? Tapi kenapa? Kenapa Mark malah tetap merawat dan menjaga memori lamanya? Apakah Donghyuck tidak bisa menggantikan posisi si “Dia”?

“Kak kapan aku bisa jadi yang pertama di hati kamu, kapan aku jadi prioritas kamu? Aku cape jadi seseorang yang hanya dijadiin formalitas karena kita punya status” Donghyuck berkata, tak peduli didengar atau tidak, tapi yang penting ego nya bisa ia buang saat ini juga.

Tak lagi berpikir Donghyuck segera membenahi diri dan memutuskan pulang. Tak peduli orang melihatnya berjalan ditengah hujan, tak peduli pukul berapa sekarang, tak peduli bajunya semakin basah. Biarkan air matanya menyatu dengan sang hujan.

“Gak bisa ya aku jadi pengganti dia? Kapan kamu sadar kalau aku ada di sisi kamu Mark? Selama ini ternyata aku cuma figuran?”

Di gelap malam menuju pagi, Donghyuck terus berjalan hingga tiba disebuah rumah kecil dan nyaman miliknya. Tubuh mengigilnya disambut oleh pelukan sang abang.

Hendery, tak berusaha melepas pelukan sang adik karena ia tahu adiknya sedang tak baik-baik saja.

“Ya ampun adek? Kenapa jam segini hujan-hujanan abang kira kamu mau nginep di rumah Mark”

Badannya semakin bergetar, isak nya semakin bergema. “Abang maaf, seharusnya aku dengerin kata kamu, seharus nya aku gak sepercaya diri itu, harusnya aku sadar untuk gak menjalin hubungan sama orang yang belum selesai dengan masa lalunya”

Hendery memberi kenyamanan yang Donghyuck cari, membiarkan sang adik meluapkan segala emosi yang tiga bulan lamanya ia pendam. Ia tak banyak menuntun ataupun menuntut, Karena sejatinya manusia itu ditakdirkan untuk memilih, dan kali ini Donghyuck di hadapkan dengan dua pilihan; tetap bersama Mark dan menjadi pemeran pengganti, atau memilih pergi meninggalkan Mark dan membuat ceritanya sendiri sebagai pemeran utama.

Glimpse

18, tanggal dimana keduanya mengikat hubungan sebagai sepasang kekasih, Mark meminta dan merayu Donghyuck untuk menjadi kekasihnya.

Tiga bulan berjalan keduanya menjalin hubungan, tapi tak seindah seperti yang orang lihat. Fakta yang nyatanya disembunyikan ialah, Donghyuck pemeran ketiga di hubungannya. Mark yang terkenal dengan sifat yang baik, dan paling paham dengan perasaan orang lain, nyata nya tidak begitu, nyatanya tak bisa dibuktikan oleh Donghyuck, nyatanya kebaikan dia hanyalah penutup segala sakit yang Mark rasa.

Luka yang Donghyuck dapat tak disertakan dengan obat penawar sakit, tidak juga Mark sembuhkan. Nyatanya Mark tak sebaik yang dulu Donghyuck kenal.


Pukul delapan malam, di rumah Mark. Keduanya merayakan hari jadi yang ke tiga bulan atas berlangsungnya hubungan mereka. Jauh dari kata romantis dan hangat. Keduanya lebih banyak diam dan menanyakan kegiatan sehari-hari dibanding dengan membagi segala kasih dan sayang.

Bosan yang dirasa, canggung yang menerpa, maka dari itu Mark memutuskan untuk mengajak Donghyuck menonton film kesukaan Mark dan “Dia” masa lalunya.

“Kamu suka film ini dek?”

“Suka, aku sering rewatch film ini, kakak suka?”

“Haha, iya aku dulu suka nonton sama dia” tak perlu lagi Donghyuck menerka, tebakannya sudah pasti valid, ukiran senyumnya seketika hilang bak goresan pensil yang dihapus.

Detik berlalu menjadi menit, menit berganti menjadi jam hingga tak disangka Mark sudah tertidur bersandar di bahu Donghyuck.

Donghyuck memandangi wajah Mark, tampan rupanya. “Ren kamu cantik” ucap Mark tak sadar.

“Ren kita bisa gak ya menua bareng?”

“Ren jangan pergi”

“I miss you...” kata terakhir yang Mark sampaikan begitu lirih, bukan hanya Mark yang sakit bukan hanya Mark yang menderita, tapi ada Donghyuck yang lebih menderita, yang hidupnya lebih kelabu dibanding Mark.

Mark, tidak membawa apa yang ia dambakan, Mark tidak mengembalikan apa yang telah ia beri, Mark hanya membawa langit abu-abu tanpa membawa sang penerang.

Mark sang pembawa gelap nya hari dan menumpang berteduh pada Donghyuck, tapi ia tak sadar ia meninggalkan jejak buruk pada tempat singgah itu.

Seharusnya Donghyuck sadar ia hanya tempat sandaran sementara, harusnya ia pergi dan lari dari hubungan ini, bukan kah seharusnya mereka menanam benih cinta baru dan memendam masa lalu? Tapi kenapa? Kenapa Mark malah tetap merawat dan menjaga memori lamanya? Apakah Donghyuck tidak bisa menggantikan posisi si “Dia”?

“Kak kapan aku bisa jadi yang pertama di hati kamu, kapan aku jadi prioritas kamu? Aku cape jadi seseorang yang hanya dijadiin formalitas karena kita punya status” Donghyuck berkata, tak peduli didengar atau tidak, tapi yang penting ego nya bisa ia buang saat ini juga.

Tak lagi berpikir Donghyuck segera membenahi diri dan memutuskan pulang. Tak peduli orang melihatnya berjalan ditengah hujan, tak peduli pukul berapa sekarang, tak peduli bajunya semakin basah. Biarkan air matanya menyatu dengan sang hujan.

“Gak bisa ya aku jadi pengganti dia? Kapan kamu sadar kalau aku ada di sisi kamu Mark? Selama ini ternyata aku cuma figuran?”

Di gelap malam menuju pagi, Donghyuck terus berjalan hingga tiba disebuah rumah kecil dan nyaman miliknya. Tubuh mengigilnya disambut oleh pelukan sang abang.

Hendery, tak berusaha melepas pelukan sang adik karena ia tahu adiknya sedang tak baik-baik saja.

“Ya ampun adek? Kenapa jam segini hujan-hujanan abang kira kamu mau nginep di rumah Mark”

Badannya semakin bergetar, isak nya semakin bergema. “Abang maaf, seharusnya aku dengerin kata kamu, seharus nya aku gak sepercaya diri itu, harusnya aku sadar untuk gak menjalin hubungan sama orang yang belum selesai dengan masa lalunya”

Hendery memberi kenyamanan yang Donghyuck cari, membiarkan sang adik meluapkan segala emosi yang tiga bulan lamanya ia pendam. Ia tak banyak menuntun ataupun menuntut, Karena sejatinya manusia itu ditakdirkan untuk memilih, dan kali ini Donghyuck di hadapkan dengan dua pilihan; tetap bersama Mark dan menjadi pemeran pengganti, atau memilih pergi meninggalkan Mark dan membuat ceritanya sendiri sebagai pemeran utama.

18, tanggal dimana keduanya mengikat hubungan sebagai sepasang kekasih, Mark meminta dan merayu Donghyuck untuk menjadi kekasihnya.

Tiga bulan berjalan keduanya menjalin hubungan, tapi tak seindah seperti yang orang lihat. Fakta yang nyatanya disembunyikan ialah, Donghyuck pemeran ketiga di hubungannya. Mark yang terkenal dengan sifat yang baik, dan paling paham dengan perasaan orang lain, nyata nya tidak begitu, nyatanya tak bisa dibuktikan oleh Donghyuck, nyatanya kebaikan dia hanyalah penutup segala sakit yang Mark rasa.

Luka yang Donghyuck dapat tak disertakan dengan obat penawar sakit, tidak juga Mark sembuhkan. Nyatanya Mark tak sebaik yang dulu Donghyuck kenal.

•••

Pukul delapan malam, di rumah Mark. Keduanya merayakan hari jadi yang ke tiga bulan atas berlangsungnya hubungan mereka. Jauh dari kata romantis dan hangat. Keduanya lebih banyak diam dan menanyakan kegiatan sehari-hari dibanding dengan membagi segala kasih dan sayang.

Bosan yang dirasa, canggung yang menerpa, maka dari itu Mark memutuskan untuk mengajak Donghyuck menonton film kesukaan Mark dan “Dia” masa lalunya.

“Kamu suka film ini dek?”

“Suka, aku sering rewatch film ini, kakak suka?”

“Haha, iya aku dulu suka nonton sama dia” tak perlu lagi Donghyuck menerka, tebakannya sudah pasti valid, ukiran senyumnya seketika hilang bak goresan pensil yang dihapus.

Detik berlalu menjadi menit, menit berganti menjadi jam hingga tak disangka Mark sudah tertidur bersandar di bahu Donghyuck.

Donghyuck memandangi wajah Mark, tampan rupanya. “Ren kamu cantik” ucap Mark tak sadar.

“Ren kita bisa gak ya menua bareng?”

“Ren jangan pergi”

“I miss you...” kata terakhir yang Mark sampaikan begitu lirih, bukan hanya Mark yang sakit bukan hanya Mark yang menderita, tapi ada Donghyuck yang lebih menderita, yang hidupnya lebih kelabu dibanding Mark.

Mark, tidak membawa apa yang ia dambakan, Mark tidak mengembalikan apa yang telah ia beri, Mark hanya membawa langit abu-abu tanpa membawa sang penerang.

Mark sang pembawa gelap nya hari dan menumpang berteduh pada Donghyuck, tapi ia tak sadar ia meninggalkan jejak buruk pada tempat singgah itu.

Seharusnya Donghyuck sadar ia hanya tempat sandaran sementara, harusnya ia pergi dan lari dari hubungan ini, bukan kah seharusnya mereka menanam benih cinta baru dan memendam masa lalu? Tapi kenapa? Kenapa Mark malah tetap merawat dan menjaga memori lamanya? Apakah Donghyuck tidak bisa menggantikan posisi si “Dia”?

“Kak kapan aku bisa jadi yang pertama di hati kamu, kapan aku jadi prioritas kamu? Aku cape jadi seseorang yang hanya dijadiin formalitas karena kita punya status” Donghyuck berkata, tak peduli didengar atau tidak, tapi yang penting ego nya bisa ia buang saat ini juga.

Tak lagi berpikir Donghyuck segera membenahi diri dan memutuskan pulang. Tak peduli orang melihatnya berjalan ditengah hujan, tak peduli pukul berapa sekarang, tak peduli bajunya semakin basah. Biarkan air matanya menyatu dengan sang hujan.

“Gak bisa ya aku jadi pengganti dia? Kapan kamu sadar kalau aku ada di sisi kamu Mark? Selama ini ternyata aku cuma figuran?”

Di gelap malam menuju pagi, Donghyuck terus berjalan hingga tiba disebuah rumah kecil dan nyaman miliknya. Tubuh mengigilnya disambut oleh pelukan sang abang.

Hendery, tak berusaha melepas pelukan sang adik karena ia tahu adiknya sedang tak baik-baik saja.

“Ya ampun adek? Kenapa jam segini hujan-hujanan abang kira kamu mau nginep di rumah Mark”

Badannya semakin bergetar, isak nya semakin bergema. “Abang maaf, seharusnya aku dengerin kata kamu, seharus nya aku gak sepercaya diri itu, harusnya aku sadar untuk gak menjalin hubungan sama orang yang belum selesai dengan masa lalunya”

Hendery memberi kenyamanan yang Donghyuck cari, membiarkan sang adik meluapkan segala emosi yang tiga bulan lamanya ia pendam. Ia tak banyak menuntun ataupun menuntut, Karena sejatinya manusia itu ditakdirkan untuk memilih, dan kali ini Donghyuck di hadapkan dengan dua pilihan; tetap bersama Mark dan menjadi pemeran pengganti, atau memilih pergi meninggalkan Mark dan membuat ceritanya sendiri sebagai pemeran utama.

Hubungan Mark dan Haechan sudah terjalin 2 tahun lamanya. Tentu hubungannya tak selalu mulus seperti yang orang pikirkan. Bahkan hubungan mereka hampir kandas akibat kesalah pahaman Haechan sendiri. Tapi dengan segala usaha dan keyakinan Mark mencoba terus menjelaskan apa yang menjadi sumbu masalah dihubungan mereka.

Hari ini tepat anniversary ke-2 hubungan mereka, Mark sangat ingat betul dengan tanggal penting ini, begitu juga dengan Haechan.

Sedari pagi Haechan masih berharap dengan hadiah atau sekedar ucapan dari Mark tapi sudah hampir malam Mark masih tak memberikan sepatah kata apapun.

Mereka berjalan menuju lobby untuk pulang, Mark membukakan pintu untuk Haechan dan membiarkan Haechan masuk duluan. Disusul dengan Mark yang masuk mobil, kini mobilnya melaju membelah jalanan kota.

“Duh dompet aku ketinggalan di kantor puter balik gpp?” Tanya Mark bohong, ucapan ini hanya akal-akalannya saja karena ia mau memberi kejutan pada pacarnya.

“Ya kok bisa sih yaudah cepet aku mau tidur udah cape” ucap Haechan, suaranya terdengar sangat jelas marah dan kesal.

Mereka sudah sampai di kantor lagi

“Mau ikut gak?” Tanya Mark.

“Ikut”

Mark dan Haechan berjalan bergandengan, lobby nya sangat sepi

“Kamu tunggu sini aja deh aku cepet kok ngambil dompetnya” kata Mark lalu meninggalkan Haechan sendirian.

Tak ada satu orang pun dilobby, lampu lobby kini tiba-tiba padam.

“MARKKKK” Haechan berteriak kaget lantaran lampu yang tiba-tiba padam.

Bunga dan confetti berjatuhan dari lantai dua, di ujung sebelah kiri Haechan terdapat lilin bentuk cinta.

Mark datang dari arah depan membawa bunga. Seisi gedung hanya disinari cahaya lilin. Mark berlutut tepat di depan Haechan memberikan bunga pada Haechan.

Haechan langsung menerima nya, belum sampai situ, Mark mengeluarkan kotak cincin dari sakunya dan memegang tangan Haechan.

“Thank you, i love you, and i’m sorry for every moment i forgot, Haechan aku bukan lelaki impian kamu yang bisa peka dan mengerti kamu setiap saat, aku juga bukan lelaki romantis kyk lelaki di drakor yang kamu tonton. We spend two years together, but i want more, i want you to spend our life forever, marry me lee Haechan?”

“Yes i will”

Lampu kembali menyala, Mark tautkan cincinnya di jari manis Haechan lalu bangkit dan langsung memeluk Haechan.

Suara tepuk tangan memenuhi lobby, terlihat beberapa karyawan dan teman-teman Haechan yang memeriahkan acara ini.

Mark melepas pelukannya dan memegang sebelah pipi Haechan, bibir keduanya menempel memberikan ciuman satu sama lain.

“UDAH WOY UDAH KASIAN NIH YANG JOMBLO!” Teriak Jeno pada mereka berdua.

Mereka pun melepaskan tautan bibirnya, dan saling menatap penuh arti.

Dengan ini, Mark dan Haechan resmi saling mencintai dan saling menjaga satu sama lain selama hidupnya.

Hubungan Mark dan Haechan sudah terjalin 2 tahun lamanya. Tentu hubungannya tak selalu mulus seperti yang orang pikirkan. Bahkan hubungan mereka hampir kandas akibat kesalah pahaman Haechan sendiri. Tapi dengan segala usaha dan keyakinan Mark mencoba terus menjelaskan apa yang menjadi sumbu masalah dihubungan mereka.

Hari ini tepat anniversary ke-2 hubungan mereka, Mark sangat ingat betul dengan tanggal penting ini, begitu juga dengan Haechan.

Sedari pagi Haechan masih berharap dengan hadiah atau sekedar ucapan dari Mark tapi sudah hampir malam Mark masih tak memberikan sepatah kata apapun.

Mereka berjalan menuju lobby untuk pulang, Mark membukakan pintu untuk Haechan dan membiarkan Haechan masuk duluan. Disusul dengan Mark yang masuk mobil, kini mobilnya melaju membelah jalanan kota.

“Duh dompet aku ketinggalan di kantor puter balik gpp?” Tanya Mark bohong, ucapan ini hanya akal-akalannya saja karena ia mau memberi kejutan pada pacarnya.

“Ya kok bisa sih yaudah cepet aku mau tidur udah cape” ucap Haechan, suaranya terdengar sangat jelas marah dan kesal.

Mereka sudah sampai di kantor lagi

“Mau ikut gak?” Tanya Mark.

“Ikut”

Mark dan Haechan berjalan bergandengan, lobby nya sangat sepi

“Kamu tunggu sini aja deh aku cepet kok ngambil dompetnya” kata Mark lalu meninggalkan Haechan sendirian.

Tak ada satu orang pun dilobby, lampu lobby kini tiba-tiba padam.

“MARKKKK” Haechan berteriak kaget lantaran lampu yang tiba-tiba padam.

Bunga dan confetti berjatuhan dari lantai dua, di ujung sebelah kiri Haechan terdapat lilin bentuk cinta.

Mark datang dari arah depan membawa bunga. Seisi gedung hanya disinari cahaya lilin. Mark berlutut tepat di depan Haechan memberikan bunga pada Haechan.

Haechan langsung menerima nya, belum sampai situ, Mark mengeluarkan kotak cincin dari sakunya dan memegang tangan Haechan.

“Thank you, i love you, and i’m sorry for every moment i forgot, Haechan aku bukan lelaki impian kamu yang bisa peka dan mengerti kamu setiap saat, aku juga bukan lelaki romantis kyk lelaki di drakor yang kamu tonton. We spend two years together, but i want more, i want you to spend our life forever, marry me lee Haechan?”

“Yes i will”

Lampu kembali menyala, Mark tautkan cincinnya di jari manis Haechan lalu bangkit dan langsung memeluk Haechan.

Suara tepuk tangan memenuhi lobby, terlihat beberapa karyawan dan teman-teman Haechan yang memeriahkan acara ini.

Mark melepas pelukannya dan memegang sebelah pipi Haechan, bibir keduanya menempel memberikan ciuman satu sama lain.

“UDAH WOY UDAH KASIAN NIH YANG JOMBLO!” Teriak Jeno pada mereka berdua.

Mereka pun melepaskan tautan bibirnya, dan saling menatap penuh arti.

Dengan ini, Mark dan Haechan resmi saling mencintai dan saling menjaga satu sama lain selama hidupnya.

Friend didn’t kiss each other.

“Lo pernah ciuman gak?” Pertanyaan yang tiba-tiba Haechan tanyakan kepada sahabat kecilnya itu, Mark.

“Belom pernah” jawabnya.

Malam minggu, dimana malam untuk menghabiskan waktu untuk bersantai atau jalan-jalan, tapi Mark dan Haechan lebih memilih bersantai di apartemen milik Haechan.

Mereka sedang asik menonton film spiderman, yang sudah berkali-kali mereka tonton, hingga Haechan bosan tapi tidak dengan Mark, ya mungkin bisa dibilang Mark merupakan fans garis keras serial Marvel itu.

Kembali ke percakapan antara Mark dan Haechan dimana Haechan menayakan sesuatu yang tidak penting, perihal ciuman.

“Cupu amat lo belom ciuman” remeh Haechan.

“Dih si anjing emang lo udah pernah?” Tanya Mark lagi yang matanya masih tergokus pada gambar di televisi.

“Ya engga lah, tapi setidaknya gue gak pernah ciuman ada alesannya karena jomblo, emangnya lo gonta-ganti pacar tapi gak pernah ciuman” intonasinya seperti meremehkan Mark untuk kesekian kalinya.

Tangannya bergerak mengambil minuman kemasan di meja depan.

“Makanya jangan jomblo, emang kenapa sih lo nanya ciuman-ciuman segala, mau ciuman lo?”

“Engga sih, tadi gue abis scroll ig eh ada yang ciuman terus gue penasaran rasanya gimana” jawabnya santai matanya selama berbicara dengan Mark tak menatap lawan bicaranya.

“Mau nyoba?”

“Ogah sama lo”

Haechan meninggalkan Mark diruang tv sendirian ia berjalan ke dapur untuk memasak mie.

5 menit—10 menit berlalu hingga film yang Mark tonton selesai Haechan tak kunjung kembali. Mark segera menyusul Haechan ke dapur.

Dilihatnya Haechan tengah menyantap mie buatannya sendiri.

“Chan” panggil Mark

“Kenapa? Mau mie? Gak ada, udah abis”

“Engga”

Haechan berjalan ke wastafel menaruh mangkuk kotornya. Tangan dan pandangannya tak lepas dari hp yang ia genggam. Hingga ia tak sadar jika tepat dibelakangnya terdapat Mark yang menghalangi jalan.

Tubuhnya berbalik hingga hampir menubruk badan besar Mark.

“Awas kek anjing ngehalangin aja”

Mark tak mendengar omelan Haechan ia masih menatap emmm- bibir Haechan yang agak kotor.

“Celana lo pendek banget? kyk gak make celana malahan”

“Ya kenapa? Sange lo?” Tanya Haechan tak tahu malu.

“Awas Mark” tangannya mendorong tubuh jangkung Mark tapi apa daya kekuatannya kalah jauh dengan yang dimiliki Mark.

“Bibir lo kotor sini gue bersihin”

“Gue bisa bersihin sendiri” baru saja tangan Haechan mau mengusap bibirnya sendiri tapi malah ditahan oleh Mark.

Kepalanya semakin mendekat ke bibir Haechan yang kelihatan bengkak karena kepedasan.

Pinggang Haechan sudah menempel pada meja dapur, begitu juga dengan tubuh Mark yang menempel di tubuh Haechan.

Tatapan Mark tak lepas dari bibir seksi Haechan, sedangkan Haechan terus menatap mata sahabatnya itu.

Cup...

bibir Mark dan Haechan menempel lidahnya menjilat sekeliling bibir Haechan yang terlihat kotor.

Mark mengangkat Haechan dan mendudukan di meja dapur.

Kali ini bibirnya terus mencium dan menyesap bibir pink Haechan, yang dicium melepaskan ciumannya, dan memukul bahu Mark keras.

“Mark anjing! Ngapain nyium gue bego?! Lo punya pacar gue ga mau jadi selingkuhan lo bangsat!”

“Ya emang kenapa? Gue sama dia udah putus kemarin”

Tak ada jawaban dari mulut Haechan, ia masih terdiam otaknya masih mencerna kejadian beberapa detik yang lalu.

Mark menggapai tangan Haechan dan menautkan dilehernya, sedangkan tangannya melingkar dipinggang ramping milik Haechan.

Keduanya menatap satu sama lain, kali ini wajah Haechan yang mendekat pada bibir Mark.

Untuk kesekian kalinya bibir mereka menempel, kali ini bukan ciuman biasa, tapi diselingi dengan sesapan. Seisi ruangan dipenuhi dengan suara ciuman dan lumatan keduanya.

Tangan Mark mendorong tengkuk Haechan untuk memperdalam ciuman mereka. Lidahnya bergulat bertukar saliva. Hingga Haechan meminta menghentikan kegiatan ciuman itu lantaran nafasnya semakin menipis.

“Cantik banget lo anjing, pacaran deh yuk” Kata Mark sedikit frustasi melihat penampilan Haechan yang sedikit berantakan, bibirnya semakin bengkak, rambutnya tak karuan dan pipinya memerah bagai memakai blush on.

“Enak, mau lagi” jawab Haechan santai sambil mengusap bibir mark– maksud perkataannya itu Haechan meminta lagi, meminta Mark untuk menciumnya untuk kali ketiga.

“Jadi pacar gue ya? Nanti gue cium setiap hari” tangan Mark mengusap pipi Haechan.

“Dih kalo gue ga suka gimana?” Elak Haechan padahal kenyataannya momen inilah yang ia tunggu, momen dimana Mark mengajak ia pacaran, menyatakan perasaannya langsung ke dirinya.

“Gue yakin seribu persen kalo lo suka gue, kalo ga suka ya tinggal gue bikin lo suka, lagian ya kalo gak suka gue kenapa minta cium lagi?”

“Pede gila lo” kata Haechan sambil menyubit pinggang Mark.

“Sakit anjing” bukannya menjauh Mark malah semakin memepetkan tubuhnya pada Haechan.

“Kenapa deket-deket anjir? Jauh-jauh sana” Haechan mendorong badan Mark agar menjauh dari dirinya.

“Gue suka lo, kenapa gak peka sih?” Bisik Mark.

“Kalo suka gue kenapa kemaren-kemaren malah pacaran sama temen gue bangsat” lagi dan lagi Haechan memukul dada Mark.

“Alibi doang itu sebenernya gue gak pacaran, cuma minta tolong ke dia gue takut kena friendzone sama lo soalnya” Mark menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan kini tubuhnya mundur perlahan.

“MARK LEE GOBLOK!” Haechan berteriak dan menarik kerah kaos yang Mark gunakan.

Bibirnya menubruk bibir Mark ia mengigit bibir itu hingga Mark memekik kesakitan

“Sakit anjir” Mark mengelus bibirnya

“Ya lagian goblok banget, males gue punya pacar goblok kyk lo” Haechan membuang muka agar pandangannya tak bertemu dengan mata Mark.

“Pacar??? Pa?? Car?? Lo nerima gue jadi pacar lo??”

“Engga–” tolak Haechan, tangan Mark memegang dagu Haechan agar Haechan menatapnya, tapi Haechan masih saja membuang mukanya.

“Serius dong elah” tanya Mark ia menginterupsi Haechan.

“Serius engga pacaran ya anjing!” Haechan masih tak menatap Mark malu yang ia rasa sekarang.

“Lee Haechan” Panggil Mark.

“IYA MARK IYA PACARAN JANGAN MANGGIL NAMA LENGKAP DONG!” Haechan sangat takut jika Mark memanggil dengan nama lengkap, terakhir Mark memanggilnya dengan nama lengkap Mark begitu marah besar.

“Bercanda sayang” cup... kini kecupan mendarat di pipi Haechan.

“Gue putusin juga nih” jawab Haechan.

“Belom juga 24 jam anjir, lapor rt aja harus 3x24 jam ini kita pacaran belom ada sejam”

“Yaudah diem makanya” Haechan mencoba turun dari posisinya sekarang, tapi Mark masih menahannya.

“Jangan pergi dulu, ciuman posisi gini enak chan”

“Ciuman mulu otak lo, udah sana” kali ini Haechan mendorong tubuh Mark dengan kakinya hingga Mark menjauh darinya.

Haechan turun dari meja dan berjalan menuju sofa ruang televisi.

“Kyknya gue mau pindah” kata Mark Haechan yang mendengar itu spontan membalikan tubuhnya menghadp Mark.

“Pindah kemana anjir??” Tanya Haechan yang mendekat ke Mark kembali.

“pindah ke apart lo biar bisa ngeliat sama cium lo tiap hari”

“Dih engga-engga orang kamar disini cuma satu ya” tolak Haechan

“Ya kan bisa tidur sekasur”

“Gak ya nanti lo macem-macem, ogah banget”

“Negatif banget pikiran lo anjir” kata Mark yang tangannya kini menoyor dahi Haechan.

—mau banget gue macem-macemin ya?” Kali ini Mark melontarkan pernyataan bodoh.

“Ya engga lah dikata gue lelaki murahan kah”

“Engga gitu sayang” ucap Mark yang menarik pinggang Haechan.

“Geli anjir”

Haechan meninggalkan Mark dan disusul dengannya. Hari pun semakin malam dan hujan semakin besar Mark memutuskan untuk bermalam di apartemen Haechan.

Mission complete— Pikir Mark misi confess dan mengajak pacaran sahabat kecilnya ini sudah berhasil, sekarang ia tak perlu takut lagi jika Haechan dekat dengan temannya yang lain dan tak perlu cemburu dalam diam, karena pada akhirnya Mark lah yang memiliki Haechan seutuhnya.

— end —

@ keripikpotato

He kissed me.

Sabtu malam waktu dimana orang senantiasa mencari hiburan atau sekedar mencari santapan malam.

Begitu juga dengan kedua orang ini, Mark dan Donghyuck kini menuju ke venue konser The 1975 yang Mark janjikan.

Setelah mampir untuk mengisi perut mereka langsung menuju ke area venue, dan langsung masuk ke antrean.

Tangan si lelaki gemini itu ditarik oleh pacarnya agar tak menghilang dari pandangannya, kerumunan orang mulai meramaikan suasana.

Lagu mulai bergema, alunan musik yang dimainkan membuat semua orang yang berada disini menari menggerakan tubuhnya.

Lagu pertama telah selesai dilanjut dengan lagu kedua, sejauh ini Mark dan Donghyuck sangat menikmati konsernya.

Setelah lagu ‘Me & You Together Song’ kini saatnya sesi break, suasana tak terlalu hening karena banyak orang yang berbincang.

Donghyuck menyenderkan kepalanya di bahu Mark. Dan tangan Donghyuck berada disaku baju Mark.

“Makasih buat konser hari ini”

“Are you happy with me?” Tanya Mark.

Donghyuck menegakan kepalanya dan menatap kekasihnya itu sinis “Gak usah nanya juga kamu tau jawabannya”

“Aku cuma mastiin kalau kamu bahagia sama aku, babe”

“Of course i’m happy with you”

Setelah mendengar jawaban dari Donghyuck ia mengusak kepalanya dan merangkul bahu Donghyuck supaya lebih mendekat.


Tak terasa mereka sudah diakhir acara.

‘It’s not living if it’s not with you‘ menjadi penutup konser kali ini.

Mark menarik tangan Donghyuck karena pacarnya hampir hilang dari gengamannya.

Mark mengeluarkan ponselnya dan merekam lagu terakhir ini.

Donghyuck mengangkat satu tangannya tanda menikmati penampilan band favorit nya.

Danny ran into some complications He falls asleep during conversations He's gotta search the street when he's on vacation The worst thing is that I'm in the same situation And all I do is sit and think about you If I knew what you'd do Collapse my veins, wearing beautiful shoes It's not living, if it's not with you

Mark berhenti merekam ke arah panggung, ia kini mengarahkan kameranya ke wajah kekasihnya itu yang tengah menikmati alunan musik.

Mark mematikan rekamannya dan menatap Donghyuck. Tapi Donghyuck masih tak sadar dengan tatapan Mark yang semakin intens.

And Danny says we're living in a simulation But he works in a petrol station (Selling petrol) He says it all began with his operation And I know you think you're sly but you need some imagination

Keduanya semakin menjauh dari panggung karena ombak yang dibuat oleh kerumanan orang disana, mereka berada di belakang kerumunan itu.

Tak peduli dengan dimana posisi mereka sekarang, Mark tidak melepaskan pandangannya, dan sekarang lelaki leo itu meraih tangan sang kekasih.

Mark menyanyi, sambil menatap Donghyuck.

And all I do is sit and think about you If I knew what you'd do Collapse my veins, wearing beautiful shoes It's not living, if it's not with you All I do is sit and drink without you If I choose, then I lose Distract my brain from the terrible news It's not living, if it's not with you

Mark bernyanyi, bernyanyi sambil menatap dunianya. Yang ditatap tak memperdulikannya, sama sekali tak menotisnya.

“Mark?” Donghyuck baru sadar.

“Kenapa kamu liatin aku terus?” Sambungnya.

Mark hanya membalas pertanyaan itu dengan senyuman tipis, mukanya tak terlalu terlihat lantaran pencahayaan yang tak terang, tapi sesekali lampu panggung menyorotnya.

I can't stop sweating or control my feet Got a twenty-stone monkey that I just can't beat I can stage a situation, but I just can't eat And there's a feeling, you're replacing embrace

It's true that– All I do is sit and think about you If I knew what you'd do Collapse my veins, wearing beautiful shoes It's not living, if it's not with you All I do is sit and drink without you If I choose, then I lose Distract my brain from the terrible news It's not living, if it's not with you

Oh, and Johnny got a job in a bank, I think And he spent the time trying to pack in the drinks for me

“Hey Mark?” Sekali lagi Donghyuck memanggil.

Masih tidak ada jawaban, Mark malah mendekatkan bibirnya pada bibir Donghyuck tak peduli dengan orang banyak disekitarnya.

Mark mencium bibir plum Donghyuck dan melumatnya singkat.

Yang dicium tak banyak pergerakan ia masih mematung dengan kejadian yang baru terjadi tadi, setelah beberapa bulan hubungannya berjalan ini kali pertama Mark mencium bibirnya.

Mark menarik tengkuk Donghyuck ia memperdalam ciumannya hingga Donghyuck membalas lumatan itu.

I feel sick and I know I that I'll lose, but It's not living, if it's not with you (It's not, it's not) It's not living, if it's not with you (It's not, it's not) (It's not, it's not) It's not living, if it's not with you (It's not living, if it's not with you) (It's not, it's not) (It's not, it's not) (It's not, it's not) (It's not living, if it's not with you)

Mark melepaskan lumatannya, bibirnya mendekat ke telinga Donghyuck “Hyuck, it’s not living if it’s not with you” bisik Mark pada Donghyuck dipenghujung lagu itu.

Mungkin terdengar gombal tapi memang begitu nyatanya yang dirasakan Mark. Rasanya tidak hidup jika tidak bersama Donghyuck yang ia cintai.

Malam itu, malam yang mereka habiskan berdua ditemani The 1975, yang juga menjadi malam dimana kali pertama Mark mecium Donghyuck.

Sabtu malam waktu dimana orang senantiasa mencari hiburan atau sekedar mencari santapan malam.

Begitu juga dengan kedua orang ini, Mark dan Donghyuck kini menuju ke venue konser The 1975 yang Mark janjikan.

Setelah mampir untuk mengisi perut mereka langsung menuju ke area venue, dan langsung masuk ke antrean.

Tangan si lelaki gemini itu ditarik oleh pacarnya agar tak menghilang dari pandangannya, kerumunan orang mulai meramaikan suasana.

Lagu mulai bergema, alunan musik yang dimainkan membuat semua orang yang berada disini menari menggerakan tubuhnya.

Lagu pertama telah selesai dilanjut dengan lagu kedua, sejauh ini Mark dan Donghyuck sangat menikmati konsernya.

Setelah lagu ‘Me & You Together Song’ kini saatnya sesi break, suasana tak terlalu hening karena banyak orang yang berbincang.

Donghyuck menyenderkan kepalanya di bahu Mark. Tangan Donghyuck berada disaku baju Mark.

“Makasih buat konser hari ini”

“Are you happy with me?” Tanya Mark.

Donghyuck menegakan kepalanya dan menatap kekasihnya itu sinis “Gak usah nanya juga kamu tau jawabannya”

“Aku cuma mastiin kalau kamu bahagia sama aku, babe”

“Of course i’m happy with you”

Setelah mendengar jawaban dari Donghyuck ia mengusak kepalanya dan merangkul bahu Donghyuck suoaya kebih mendekat.


Tak terasa sudah diakhir acara.

‘It’s not living if it’s not with you‘ menjadi penutup konser kali ini.

Mark menarik tangan Donghyuck karena pacarnya itu hampir hilang dari gengamannya.

Mark mengeluarkan ponselnya dan merekam lagu terakhir ini.

Donghyuck mengangkat satu tangannya tanda menikmati penampilan band favorit nya.

Danny ran into some complications He falls asleep during conversations He's gotta search the street when he's on vacation The worst thing is that I'm in the same situation And all I do is sit and think about you If I knew what you'd do Collapse my veins, wearing beautiful shoes It's not living, if it's not with you

Mark berhenti merekam ke arah panggung, ia kini mengarahkan kameranya ke wajah kekasihnya itu yang tengah menikmati alunan musik.

Donghyuck masih tak sadar dengan tatapan Mark yang semakin intens.

And Danny says we're living in a simulation But he works in a petrol station (Selling petrol) He says it all began with his operation And I know you think you're sly but you need some imagination

Keduanya semakin menjauh dari panggung karena ombak yang dibuat oleh kerumanan orang disana, mereka berada di belakang kerumunan itu.

Walau begitu Mark tidak pernah melepaskan pandangannya, dan sekarang lelaki leo itu meraih tangan sang kekasih.

Mark menyanyi, sambil menatap Donghyuck.

And all I do is sit and think about you If I knew what you'd do Collapse my veins, wearing beautiful shoes It's not living, if it's not with you All I do is sit and drink without you If I choose, then I lose Distract my brain from the terrible news It's not living, if it's not with you

Mark bernyanyi, bernyanyi sambil menatap dunianya. Yang ditatap tak memperdulikannya, sama sekali tak menotisnya.

“Mark?” Donghyuck baru sadar.

“Kenapa kamu liatin aku terus?” Sambungnya.

Mark hanya membalas pertanyaan itu dengan senyuman tipis, mukanya tak terlalu terlihat lantaran pencahayaan yang tak terang, tapi sesekali lampu panggung menyorotnya.

I can't stop sweating or control my feet Got a twenty-stone monkey that I just can't beat I can stage a situation, but I just can't eat And there's a feeling, you're replacing embrace

It's true that– All I do is sit and think about you If I knew what you'd do Collapse my veins, wearing beautiful shoes It's not living, if it's not with you All I do is sit and drink without you If I choose, then I lose Distract my brain from the terrible news It's not living, if it's not with you

Oh, and Johnny got a job in a bank, I think And he spent the time trying to pack in the drinks for me

“Hey Mark?” Sekali lagi Donghyuck memanggil.

Masih tidak ada jawaban, Mark malah mendekatkan bibirnya pada bibir Donghyuck tak peduli dengan orang banyak disekitarnya.

Mark mencium bibir plum Donghyuck dan melumatnya singkat.

Donghyuck tak banyak pergerakan ia masih mematung dengan kejadia yang baru terjadi tadi, setelah beberapa bulan hubungannya berjalan ini kali pertama Mark mencium bibirnya.

Mark menarik tengkuk Donghyuck ia memperdalam ciumannya hingga Donghyuck membalas lumatan itu.

I feel sick and I know I that I'll lose, but It's not living, if it's not with you (It's not, it's not) It's not living, if it's not with you (It's not, it's not) (It's not, it's not) It's not living, if it's not with you (It's not living, if it's not with you) (It's not, it's not) (It's not, it's not) (It's not, it's not) (It's not living, if it's not with you)

Mark melepaskan lumatannya, bibirnya mendekat ke telinga Donghyuck “Hyuck, it’s not living if it’s not with you” bisik Mark pada Donghyuck dipenghujung lagu itu.

Mungkin terdengar gombal tapi memang begitu nyatanya yang dirasakan Mark. Rasanya tidak hidup jika tidak bersama Donghyuck yang ia cintai.

Malam itu, malam yang mereka habiskan berdua ditemani The 1975, yang juga menjadi malam dimana kali pertama Mark mecium Donghyuck.

It’s not propose it is promise.

Donghyuck menduduki dirinya di bangku cafe semi outdoor itu, pemandangan lampu kota yang diwarnai langit oranye begitu indah dipandang mata.

Mark baru saja duduk disampingnya sambil membawa minuman cokelat hangat untuk mereka berdua.

Keduanya memandangi sang fajar yang mulai tenggelam di arah barat, hanya menyisakan sinar yang sedikit demi sedikit menggelap.

Lampu-lampu di cafe tersebut mulai menyala, Donghyuck memandang langit tak banyak bintang yang menghiasi langit hanya ada dua bintang dan bulan yang berada di antara kedua bintang itu.

Donghyuck mengambil segelas cokelat hangat miliknya dan meminumnya.

Ia menaruh kembali gelasnya di meja. Beda hal nya dengan Mark ia belum menyentuh minumannya sama sekali.

Kini Mark berlutut didepan Donghyuck, dan memperlihatkan dua cincin couple.

“Hyuck, it’s not propose, but it is a promise. Janji ya kalau kamu bakal selalu ada di samping aku, dan aku janji akan selalu ada disamping kamu juga. Be my bestfriend, and my boyfriend as long as we lives

Mark memasangkan cincin di jari manis Donghyuck.

Ini bukan lamaran, bukan juga ajakan menjalin hubungan ke jenjang yang lebih serius, tapi ini janji antara keduanya untuk saling menjaga dan menyangi selama mereka masih bersama di dunia ini.

Mark bangkit dari posisi berlututnya, dan langsung ditarik kepelukan Donghyuck.

I fell first but you fell harder” Donghyuck berbicara hampir tak terdengar.

Pelukannya semakin mengerat lantaran udara puncak semakin dingin malam ini.

Museum date

Tak terasa Mark sudah hampir 3 bulan kembali dari Canada. Harinya hanya dipenuhi Donghyuck, Donghyuck dan Donghyuck. Bahkan ia bisa hampir setiap pagi ke rumah Donghyuck hanya untuk melihat wajah kekasihnya lalu kembali ke rumahnya.

Kalau kata orang sih bucin.

Hari ini, Sabtu. Keduanya memiliki waktu senggang dan berniat akan pergi ke sebuah museum seni. Ide Mark cukup bagus mengajak kekasihnya itu berkencan.

Mark memasuki pekarangan rumah Donghyuck dan duduk menunggu di kursi yang tepat berada disamping pintu.

Pintu rumahnya terbuka, memperlihatkan Donghyuck yang baru saja keluar, semerbak parfumenya menusuk indra penciuman Mark. Mark hafal sekali wangi ini, ia langsung menoleh ke arah Donghyuck.

“Hai” sapa Donghyuck tersenyum pada Mark.

Cantik, Mark melihat Donghyuck begitu cantik, menurutnya bunga ditaman pun kalah indah dan wangi kalau disandingkan dengan pacarnya itu.

“Hai” Mark menjawab begitu bersemangat dan langsung bangkit dari duduknya.

Setelah keduanya berhadapan Donghyuck langsung memeluk Mark.

“Tumben, kenapa?”

You’re perfect and i love you” ucap Donghyuck.

Setelah berkata itu Donghyuck melepas pelukannya. Dan membiarkan Mark menggandeng lengannya dan berjalan menuju mobil yang terparkir didepan rumahnya.

“Ayo jalan” ajak Mark.

Tangannya masih setia menggengam tangan Donghyuck.

Saat menyetir pun Mark selalu berusaha tidak membiarkan lengan Donghyuck jauh dari genggamannya.

“Mark nyetir yang bener, pegang tangannya kan masih bisa nanti”

“Hehe sorry” Mark hanya terkekeh.


Mobilnya sudah terpakir tepat di depan museum seni yang mereka kunjungi.

Keduanya langsung masuk kedalam, menikmati hasil karya seni manusia lain yang penuh makna.

Tak hanya itu mereka sesekali bergantian mengambil foto dirinya.

Mereka berkeliling galeri selama sejam, memperhatikan lukisan di dinding.

Donghyuck tengah asik dengan dunia nya sendiri memperhatikan inci demi inci lukisan yang terpampang, tanpa disadari Mark malah memperhatikan wajah Donghyuck.

Darling, don't move too much 'Cause you might break the things that you have touched But let me tell you, don't go too far And just enjoy this artistic room of ours This empty canvas that they misunderstood I wanna paint you in it, but I'm not good 'Cause I wanna look at you when we are apart 'Cause you're not just a human being, you are art

Indah. Satu kata yang menjelaskan semua perasaan Mark kepada Donghyuck.

“Hyuck” panggil Mark spontan ia langsung mengambil foto Donghyuck asal.

“Mark kenapa tiba-tiba foto aku, jelek tau” Donghyuck langsung mendekat pada Mark dan memukul lengan pacarnya itu pelan.

So darling, darling don't be scared 'Cause even if I look everywhere Your colors caught my eye And you're my favorite sight to see It's from the way that you move And everything that you do And after that it's when I realize That I lovе you

“Engga kamu ganteng kok” Mark menyodorkan ponselnya memberitahu hasil jepretannya itu.

“You look so beautiful every single times, you’re art. Kamu karya tuhan yang paling indah yang pernah aku liat” Mark menatap Donghyuck dalam hingga membuat yang ditatap merasa malu diam tak berkutik.

Mark mengambil tangannya dan mengecup punggung tangan Donghyuck.

You told me to look everywhеre else But I said no 'cause when I look at you, my heart always melts So I stayed, even though you're a mess 'Cause you're like drugs And with you, yes I'm obsessed

Ya, Mark obsesi. Mark terobsesi akan keindahan wajah Donghyuck. Mark terobsesi mengungkapkan perasaannya pada Donghyuck.

Mark masih menatap Donghyuck dengan senyumnya ia tak melepaskan pandangannya dari pahatan indah wajah Donghyuck.

I love you. Bahkan kata itu sudah tidak cukup menggambarkan perasaanya pada Donghyuck.

“Ayo pulang udah sore, nanti aku di marahin bang jo kalo kemaleman pulangnya” kata Mark.

Cup.

Donghyuck mengecup pipi Mark singkat dan langsung berlari menjauhi Mark karena malu, Mark mengejar Donghyuck hingga berjalan beriringan

Bukan hanya Donghyuck yang memerah pipinya tapi Mark juga begitu.